Pengalaman mengikuti Napak Tilas kehadiran misi awal Gembala Baik di Bantul dan di Yogyakarta membawa rasa syukur dalam diri saya. Kesempatan ini bukan sekadar perjalanan atau penyegaran, melainkan sebuah pengalaman rohani yang membawa saya masuk ke dalam makna panggilan dan pelayanan. “Napak Tilas” ini membuka mata dan hati saya untuk melihat kembali jejak awal perjuangan para suster dalam merintis misi. Saya disadarkan bahwa apa yang hari ini terlihat berdiri kokoh, dahulu dimulai dari langkah-langkah kecil yang penuh iman, keberanian, dan pengorbanan.
Salah satu pengalaman yang sangat berkesan bagi saya adalah ketika mengunjungi rumah keluarga tempat para suster dahulu tinggal sebelum memiliki rumah sendiri di Bantul. Dari cerita keluarga, saya mendengar dan membayangkan bagaimana para suster hidup dalam kesederhanaan namun penuh semangat dalam pelayanan. Kesaksian dari sebuah keluarga yang beragama Muslim sangat menyentuh hati saya. Ini menunjukkan bahwa pelayanan para suster hadir secara universal menjangkau siapa saja dengan kasih yang tulus.

Saya belajar bahwa para suster melayani dengan hati yang terbuka: mereka menyapa, hadir, dan memberi diri tanpa memandang latar belakang. Salah satu bentuk nyata pelayanan mereka adalah membuka kursus jahit yang bahkan masih memberi dampak hingga sekarang dan juga mengajar di beberapa sekolah. Pelayanan ini menjadi bukti bahwa kasih yang dihidupi bukan sekadar kata-kata, tetapi nyata dalam tindakan. Para suster menghadirkan nilai kasih dalam kesederhanaan, namun menyentuh kehidupan banyak orang.
Ada satu hal yang sangat menggugah hati saya ketika mendengarkan kesaksian dari salah satu anggota keluarga yang melihat para suster mengeluh. Selama ini dia berpikir suster itu tidak pernah mengeluh. Ketika saya merefleksikan lagi mengenai hal ini, saya menyadari bahwa yang dia lihat hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan perjuangan para suster. Saya percaya bahwa di balik itu ada pergulatan besar yang tidak terlihat: tantangan dalam membangun misi baru, keterbatasan, bahkan mungkin rasa lelah dan takut. Namun, para suster tidak berhenti; mereka tetap setia melangkah tanpa menunjukkan seluruh beban yang mereka tanggung.
Saya semakin memahami bahwa kekuatan utama para suster adalah iman mereka yang kuat, seperti yang diungkapkan oleh St. Maria Euphrasia: “Rahmat-Mu cukup bagiku”. Saya percaya bahwa karena rahmat Tuhan itulah para suster dimampukan untuk bertahan, melanjutkan misi, dan sampai pada akhirnya mendirikan rumah dan karya di Bantul. Semua ini terjadi bukan semata-mata karena kemampuan para suster saja, tetapi karena penyertaan Tuhan Gembala yang Baik.
Pengalaman ini menjadi cermin bagi diri saya yang dipanggil sebagai penerus karya ini. Saya diingatkan bahwa mengikuti Tuhan bukanlah jalan yang mudah; ada salib yang harus dipanggul; ada proses yang harus dijalani. Melalui “Napak Tilas” ini saya belajar bahwa kesetiaan jauh lebih penting daripada kesempurnaan. Saya dikobarkan oleh semangat para suster pendahulu untuk belajar melayani dengan tulus, bertahan dalam kesulitan, dan tetap setia dalam panggilan. Meskipun prosesnya itu tidak selalu mudah, saya percaya bahwa Tuhan yang sama yang dahulu menuntun para suster juga akan menuntun saya hari ini.
Penulis : Efriana Odi (Postulan)