Tujuh bulan saya menjalani tugas di selter Bantul bukanlah waktu yang singkat. Di tempat yang penuh cerita dan perjuangan ini, saya belajar banyak hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Bukan hanya tentang melayani, tetapi juga tentang mengenal diri sendiri tentang batas, ketakutan, dan keberanian yang ternyata bisa tumbuh ketika dibutuhkan.

Salah satu pengalaman yang paling membekas dalam ingatan saya adalah ketika untuk pertama kalinya saya menemani seorang peserta program melahirkan di rumah sakit. Hari itu menjadi titik balik dalam perjalanan saya.

Sejujurnya, saya adalah pribadi yang cukup sensitif terhadap darah. Bahkan melihat sedikit saja, saya bisa merasa pusing dan tidak nyaman. Maka ketika harus masuk ke ruang bersalin dan menyaksikan langsung proses kelahiran, rasa takut dan bingung langsung memenuhi pikiran saya. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Semua terasa asing. Namun di tengah ketakutan itu, saya percaya ada tangan Tuhan yang senantiasa menyertai menenangkan hati saya dan memberi kekuatan yang tidak saya miliki sebelumnya.

Namun, di tengah kebingungan itu, saya melihat wajah ibu yang saya dampingi. Ia tampak sangat kesakitan, ketakutan, dan membutuhkan seseorang untuk menguatkannya. Pada saat itulah saya sadar, saya tidak punya pilihan selain menguatkan diri.

Saya berusaha menenangkan diri, mengatur napas, dan berdiri di sampingnya. Saya menggenggam tangannya, memberi semangat dengan kata-kata sederhana, dan mencoba tetap hadir sepenuhnya. Di dalam hati, saya masih bergumul dengan rasa takut, tetapi saya memilih untuk tidak menyerah. Saya percaya, Tuhan juga sedang bekerja dalam diri ibu ini, menguatkannya dalam proses yang tidak mudah.

Ketika akhirnya bayi itu lahir, tangisnya memecah ruangan. Suasana yang sebelumnya penuh ketegangan berubah menjadi haru. Saya menyaksikan bagaimana seorang ibu yang tadi kesakitan kini tersenyum lega. Saya juga melihat kehidupan baru yang begitu kecil, rapuh, namun penuh harapan. Dalam momen itu, saya semakin merasakan bahwa tangan Tuhan sungguh nyata menyertai saya, ibu tersebut, dan bayi yang baru lahir itu dengan kasih-Nya yang lembut.

Pengalaman pertama itu menjadi awal dari perjalanan saya berikutnya. Beberapa waktu setelahnya, saya kembali mendampingi peserta program, baik saat kontrol rutin maupun saat melahirkan. Anehnya, saya tidak lagi merasa setakut sebelumnya. Saya justru merasa lebih siap, lebih tenang, dan lebih peka terhadap kebutuhan mereka.

Saya mulai belajar banyak hal: bagaimana memberikan dukungan emosional, bagaimana tetap tenang dalam situasi yang menegangkan, dan bagaimana mengambil tindakan sederhana yang bisa membantu. Saya menyadari bahwa keberanian bukan berarti tidak takut, tetapi tetap melangkah walaupun takut itu ada.

Tugas pertama ini memang terasa berat. Banyak hal yang belum pernah saya alami sebelumnya. Namun justru di situlah saya bertumbuh. Setiap hari menjadi kesempatan untuk belajar, bukan hanya dari pengalaman, tetapi juga dari orang-orang di sekitar saya yang dengan sabar membimbing dan membantu.

Saya merasa bersyukur ditempatkan di sini. Selter Bantul bukan hanya tempat saya bertugas, tetapi juga tempat saya ditempa. Saya belajar bahwa ketika kita membuka diri untuk belajar dan mau mencoba, bahkan hal yang paling menakutkan sekalipun bisa menjadi sumber kekuatan.

Pengalaman ini mengajarkan saya satu hal penting: kita sering kali meragukan diri sendiri sebelum mencoba. Namun ketika kita berani melangkah, kita akan menemukan bahwa kita jauh lebih kuat daripada yang kita kira. Dan dari ruang bersalin itu, saya tidak hanya menyaksikan kelahiran seorang bayi, tetapi juga kelahiran keberanian dalam diri saya sendiri.

error: Content is protected !!