Sejarah RGS Provinsi Indonesia

Sejarah RGS Provinsi Indonesia mencerminkan perjalanan panjang penuh dedikasi dalam menghadirkan kasih, belas kasih, dan pelayanan kepada masyarakat. Dimulai dengan kehadiran para suster perintis, karya mereka terus berkembang seiring waktu, menjangkau berbagai daerah dan komunitas. Melalui semangat dan visi Gembala Baik, Provinsi Indonesia menjadi saksi nyata transformasi hidup yang memberdayakan dan menginspirasi banyak orang.

Kondisi Anak-Anak Terlantar di Masa Penjajahan Belanda

Keprihatinan akan banyaknya anak terlantar dan gadis remaja yang memerlukan pembinaan dan pendidikan secara khusus, mendorong Mgr. Van Velzen, Vikaris Apostolik Batavia untuk mengundang para Suster Gembala Baik berkarya di Jakarta.


Pada 27 Juni 1927, para suster pindah ke Molenvliet – sekarang Jl. Hayam Wuruk, dan mulai mengerjakan karya kerasulan dengan mengasuh anak-anak terlantar dan yatim piatu. Hingga akhir tahun 1927, ada sepuluh anak yang diasuh oleh para Suster Gembala Baik. Karya pelayanan yang dirintis para suster itu terus berkembang. Rumah Gembala Baik di Molenvliet sudah tak cukup lagi menjadi tempat pengasuhan anak-anak.

Hingga saat ini, Kongregasi Suster Gembala Baik di Indonesia hadir dan melayani di beberapa tempat, yaitu di Jakarta, Bogor, Yogyakarta, Ruteng, Marau dan Batam. Tuhan yang telah memulai karya Gembala Baik di Indonesia, senantiasa memberikan jalan kebaikan dalam beragam karya-karyanya.

Situasi yang buruk ketika tanah air Indonesia dijajah oleh Belanda telah menyebabkan begitu banyak anak terlantar. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak Eurasia yang telah ditinggal oleh ayah mereka pulang ke negeri Belanda. Anak-anak dan remaja ini tinggal di camp-camp yang saat itu berlokasi di sekitar Kampung Melayu Jatinegara, Jakarta Timur.

Keprihatinan akan banyaknya anak terlantar dan gadis remaja yang memerlukan pembinaan dan pendidikan secara khusus, mendorong Mgr. Van Velzen, Vikaris Apostolik Batavia untuk mengundang para Suster Gembala Baik berkarya di Jakarta.

Situasi yang buruk ketika tanah air Indonesia dijajah oleh Belanda telah menyebabkan begitu banyak anak terlantar. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak Eurasia yang telah ditinggal oleh ayah mereka pulang ke negeri Belanda. Anak-anak dan remaja ini tinggal di camp-camp yang saat itu berlokasi di sekitar Kampung Melayu Jatinegara, Jakarta Timur.

Maka, para Suster Gembala Baik itu membeli sebidang tanah di daerah Mr Cornelis Jl. Pasar 122, Kampung Melayu, Jatinegara, yang kemudian dibangun sebuah biara. Biara tersebut diberi nama Mater Dolorosa. Pada 31 Oktober 1931 para suster dan anak-anak menempati biara baru itu. Pada 5 November 1931 Biara Mater Dolorosa diresmikan. Sejak itu, Pemerintah Belanda saat itu memberikan dukungan kepada Suster-suster Gembala Baik untuk meluaskan misinya di Indonesia.

Pohon Gembala Baik yang ditanam di Indonesia telah bertumbuh dan menjadi lebih besar, sehingga banyak jiwa dapat bernaung di bawahnya. Kehadiran para suster Gembala Baik di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perutusan yang mereka emban yang menjadi tujuan utama para Suster pendahulu dari Belanda mengarungi samudera menuju persada Indonesia.

Mari Terlibat. Lebih Dekat!

Bersama Menyebarkan Kasih
Dukung langkah kecil yang membawa perubahan besar.
Mari bergandengan tangan dalam karya kebaikan.

Alamat

JL. Raya Jatinegara Barat NO.122, Kampung Melayu, Kec. Jatinegara, Kota Jakarta Timur, Jakarta.

Hubungi kami: 081318985737

error: Content is protected !!