Ketika Natal Menjadi Cerita tentang Rumah “Perayaan Natal dan Tahun Baru Asrama  Gembala Baik Bogor“

Ketika Natal Menjadi Cerita tentang Rumah “Perayaan Natal dan Tahun Baru Asrama Gembala Baik Bogor“

 

Natal dan Tahun Baru di Asrama Gembala Baik Bogor bukan hanya tentang tanggal di kalender melainkan cerita tentang rumah, tempat bertumbuh, belajar, tertawa dan saling menerima. Perayaan dirasakan semakin hidup dan kreatif, walaupun dirayakan dalam kesederhanaan namun penuh makna. Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 dipersiapkan dengan berbagi ide-ide kreatif juga sharing makanan yang ingin disantap. Anak-anak asrama belajar menyusun rencana, berbagi peran, dan saling bekerja sama untuk menyiapkan perayaan. Proses ini mengajarkan bahwa sebuah perayaan tidak hanya dinilai dari hasil akhirnya, tetapi dari kebersamaan yang dibangun selama perjalanan menuju hari perayaan. Melalui perayaan ini seluruh warga asrama diajak untuk mensyukuri kasih setia Tuhan yang menyertai sepanjang tahun 2025, sekaligus menumbuhkan semangat persaudaraan, kebersamaan  antar pribadi, dan pelayanan dalam hidup bersama.

 

 

Merayakan dengan Iman dan Sukacita

 

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa penuh khidmat. Dihadapan cahaya lilin dan doa yang dilantunkan, setiap hati diajak untuk   merenungkan makna kelahiran Sang Juru Selamat. Dia hadir sebagai cinta yang sederhana, dekat, dan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Usai doa, sukacita menemukan bentuknya yang lain. Aula asrama dipenuhi nada, tawa, dan gerak sederhana yang lahir dari hati. Lagu-lagu dinyanyikan bukan untuk dipertontonkan, melainkan untuk mengundang setiap pribadi bersukacita. Musik mengalir, ujud-ujud doa dibacakan, menyatu dalam tarian penuh sukacita dan setiap penampilan menjadi kisah kecil tentang syukur dan kebersamaan. Di tengah suasana itu, momen tukar kado menjadi pelengkap sukacita. Bukan tentang besar atau kecilnya hadiah, melainkan tentang perhatian yang dibungkus sederhana dan diterima dengan senyum yang tulus. Disanalah tawa pecah, rasa haru hadir dan kebersamaan terasa semakin nyata.

 

 

Tentang nada-nada sukacita dari Asrama Gembala Baik 

 

Evelin

“Buat aku, momen paling berkesan dari acara ini adalah bisa berkumpul bareng lagi satu asrama. Dari kelas 10, 11, dan 12. Banyak hal seru yang bikin ketawa, terutama saat menyaksikan pentas seni dari tiap kamar. Aku juga bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk kebersamaan ini, apalagi dengan kakak-kakak kelas 12 yang sebentar lagi lulus. Walaupun sempat merasa cemas waktu mempersiapkan pentas seni kamar (Karena kamar aku tipe yang santai banget), tapi justru itu yang bikin semuanya terasa lebih hidup dan berkesan.”

Russel

“Selama acara Natal dan Tahun Baru, aku ngerasa senang karena semuanya berjalan lancar dari awal sampai akhir. Hasil acaranya memuaskan, dan kami belajar banyak hal, terutama soal public speaking dan arti kebersamaan. Yang paling terasa, semua ikut terlibat. Kita asik bareng, seru bareng, dan saling mendukung. Intinya, kebersamaan jadi hal paling utama yang aku rasakan dari acara ini.”

Febby

“Jujur aku happy banget bisa ikut merayakan Natal dan Tahun Baru bareng di asrama. Mulai dari merencanakan acara bareng, bakar-bakar frozen food rame-rame (walaupun ada yang nggak mateng), nyanyi bareng, ketawa bareng, sampai kumpul bersama Suster dan kakak Aspiran. Apalagi ini mungkin jadi Natal dan Tahun Baru terakhir aku di asrama karena setelah ini aku akan mulai PKL. Jadi semuanya terasa lebih special dan bakal jadi kenangan yang susah di lupain.”

 

 

Dari nada-nada sukacita inilah, kita belajar bahwa kebersamaan yang sederhana mampu melahirkan sukacita yang besar. Perayaan ini mungkin telah usai, tetapi kenangannya akan terus hidup, menjadi pengingat bahwa Natal di asrama adalah tentang hati yang saling terhubung sebagai satu keluarga. Yesus sungguh hadir dan lahir ditengah keluarga kami, Asrama Putri Gembala Baik Bogor.

 

SELAMAT NATAL 2025 & TAHUN BARU 2026

 

 

Penulis : Okri (Aspiran Gembala Baik)

Kisah iman: Sukacita Injili membawa harapan baru dalam kunjungan Paus Fransiskus

Kisah iman: Sukacita Injili membawa harapan baru dalam kunjungan Paus Fransiskus

“Viva il Papa… viva il Papa… viva Papa Francesco…”

Paus Fransiskus memilih Indonesia sebagai negara pertama yang dikunjunginya dalam lawatannya selama 11 hari ke Asia dan Oseania dari tanggal 2 hingga 13 September. Selama tiga hari kunjungannya di Indonesia, sorak sorai masyarakat yang menyambutnya di mana pun ia berada terus bergema di seluruh rakyat Indonesia.

Kunjungan Apostoliknya merupakan momen bersejarah bagi Gereja Katolik di Indonesia dan masyarakat Indonesia. Banyak orang kagum dan terinspirasi oleh sifatnya yang sederhana, rendah hati, dan penuh perhatian serta pesan universalnya tentang kasih, persaudaraan, perdamaian, dan kesejahteraan yang melampaui batas-batas agama dan keyakinan.

Kehadiran Paus Fransiskus telah menyentuh hati banyak orang, hal ini menjadi bukti nyata akan tema kunjungan apostoliknya: iman, persaudaraan, dan belas kasihan.

Di hadapan 80.000 orang yang hadir di Stadion Utama Gelora Bung Karno – dan seluruh Indonesia, mengingat acara ini disiarkan langsung di semua stasiun televisi di negara ini – Paus mendorong seluruh masyarakat Indonesia untuk “menunjukkan kebaikan dan keramahan dengan senyum khas Anda” dan untuk “berjalan bersama demi kebaikan masyarakat dan Gereja! Jadilah pembangun harapan yang membuka diri kita pada sukacita yang tak berujung”.

Kunjungan Paus Fransiskus menyulut semangat baru di antara para suster dan mitra misi di Indonesia, yang berkesempatan untuk hadir, bertemu dengannya. Berikut ini beberapa kisah mereka:

 

Sr. Anastasia Sunarni, RGS: Belajar dari Sang Pelayan Sejati

 

Jantung saya hampir berhenti berdetak saat melihat Paus Fransiskus memasuki katedral dengan kursi rodanya dan senyumnya yang khas; saya begitu bahagia. Suasana yang sunyi dan tenang tiba-tiba berubah menjadi lautan kegembiraan saat seluruh ruangan bergemuruh menyambutnya dan menerima berkat apostoliknya.

Selama pertemuan, ia mendengarkan testimoni dengan sepenuh hati. Kesederhanaan, kasih sayang, dan empatinya telah mengilhami saya untuk bertanya pada diri sendiri: apa saja ciri-ciri pemimpin yang benar-benar melayani dengan sepenuh hati?

Usia bukanlah halangan baginya untuk hadir, menyapa, memberkati, dan memeluk siapa pun. Sikapnya mengingatkan saya pada kata-kata St. John Eudes yang sering diulang oleh St. Mary Euphrasia: ‘Satu orang lebih berharga daripada seluruh dunia.’

 

Veronica Purwaningsih: Jangan Pernah Lelah Menabur Harapan

 

Setelah menempuh perjalanan bus selama dua belas jam, kami tiba dengan penuh semangat untuk menghadiri Misa Paus di Jakarta. Suasana menjelang Misa sangat tenang; hujan turun sesaat lalu berubah menjadi awan tipis, menggambarkan curahan berkat dan kesejukan. Kemudian, saat iring-iringan mobil Paus memasuki Stadion Gelora Bung Karno, sorak sorai tak henti-hentinya saat umat bernyanyi, “Kristus Mulia; Kristus Mulia,”

Khotbah yang disampaikan sungguh mendalam. Mengutip perkataan Santa Teresa dari Kalkuta, beliau mengingatkan kita, “Sekalipun kamu tidak menuai apa pun, jangan pernah lelah menabur.” Beliau berkata bahwa sekalipun kita mengalami kekecewaan, kita harus tetap berharap. Itu adalah ajakan dan anjuran yang sulit, tetapi itulah yang harus kita lakukan sebagai murid Tuhan. Kita tidak boleh terpenjara oleh kegagalan, tetapi kita harus terus bergerak dan berbuat baik.

Saya tidak akan pernah berhenti bercerita tentang pertemuan dengan Paus dalam Misa di Stadion Gelora Bung Karno. Pengalaman sekali seumur hidup ini telah mendorong saya untuk terus berjuang demi kebaikan sepanjang hidup. Saya berharap dan berdoa agar semangat ini tidak pernah pudar.

 

Sr. Irmina Catur: Dipilih, Diinginkan, dan Dicintai

 

“Siapakah aku ini sehingga ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Kata-kata Elisabet ketika Bunda Maria berkunjung menggema dalam diriku, sementara aku juga menggumamkan kata-kata, “Siapakah aku ini sehingga aku harus bertemu Paus Fransiskus?”

Dengan rasa syukur dan sukacita yang mendalam di hati saya, saya menemani murid-murid SD St.Maria Fatima menyambut kedatangan Paus Fransiskus di Istana Kepresidenan. Saya merasakan sapaan persahabatan yang ia berikan kepada setiap orang yang hadir melalui senyumnya yang lembut dan sorot matanya yang ceria. Pertemuan saya dengan Paus membuat saya menyadari bahwa saya juga dipilih, diinginkan, dan dicintai dengan cinta yang istimewa.

Dari pertemuan saya dengan Paus Fransiskus, saya belajar tentang antusiasme, tentang kekuatan untuk terus berbagi kegembiraan dan kedamaian dengan setiap orang yang saya temui dengan senyuman yang membawa kehidupan.

Kata-katanya terus bergema di hatiku: “Jangan lelah berlayar dan menebarkan jala; jangan lelah bermimpi dan membangun kembali peradaban yang damai! Berani selalu bermimpi tentang persaudaraan! Dibimbing oleh sabda Tuhan, saya mendorong kalian untuk menabur benih kasih, dengan percaya diri menapaki jalan dialog.”

 

Lusia Supriawati: Iman Membuat Mukjizat Menjadi Nyata

 

Ketika diumumkan bahwa Paus Fransiskus akan segera tiba di stadion Madya, orang-orang berbondong-bondong menuju pembatas, dan saya khawatir saya tidak akan dapat melihatnya di antara kerumunan. Dengan jantung berdebar kencang, saya teringat kisah Zakheus dan naik ke atas kursi sehingga saya juga dapat melihat sekilas Paus.

Ketika Fransiskus lewat, saya tidak dapat menahan diri untuk berseru dengan mata berkaca-kaca, “Papa.” Sambil berdoa dengan sungguh-sungguh, saya merasakan tubuh saya mengecil, dan seekor merpati dari langit memancarkan cahaya merah dari atas kepala saya hingga ke kaki saya. Semakin erat saya mengepalkan tangan, semakin saya merasakan Tuhan mencurahkan Roh Kudus kepada saya saat itu. Pengalaman merasakan Roh Tuhan ini telah mengajarkan saya bahwa iman dapat membuat mukjizat menjadi kenyataan.

 

Penulis: Camelia Tri Lestari
Editor: Camelia Tri Lestari

 

error: Content is protected !!