Happy Encounter: Ministry Experiences at Santa Maria Fatima School, Jakarta

Happy Encounter: Ministry Experiences at Santa Maria Fatima School, Jakarta

    Watching the airplane route on the screen with a mixture of excitement and nervousness, I knew that I was getting nearer to my destination, Jakarta, Indonesia. This was my first time visiting Indonesia, a country famous for its thousands of islands. As the airplane began its descent for landing, breaking through the veil of clouds, the landscape beneath grew more distinct and clearer, and suddenly one Bible verse came to me: “My ears had heard of you, but now my eyes have seen you” (Job 42:5). At that moment, I felt so touched that I could not help but offer a little prayer of blessing upon this beautiful land and the people living on it.

    Upon arriving in Jakarta, what impressed me deeply was the warm welcome and loving greetings from the sisters in Indonesia, whether online or in person. I felt deeply accepted as a member of the larger Good Shepherd family. I had a wonderful time in the Jakarta community. The convent was surrounded by beautiful gardens and natural scenery, and each loving greeting and smile from the sisters created a nurturing atmosphere for my spiritual growth and fostered my sense of belonging as a Good Shepherd Sister.

    My main ministry at Santa Maria Fatima School was to support and participate in school activities and to assist a sister with her Chinese class in the kindergarten. To encourage the students and cultivate their creativity in learning Mandarin, I adopted a play-centered teaching approach, stressing that playing is learning and that having fun in the process is crucial to maintaining the students’ interest and motivation—particularly for preschool children learning a foreign language. We played number games, learned vocabulary through body actions, sang songs, and danced to the rhythm. In this relaxing learning atmosphere, I felt so blessed to have this wonderful time learning, playing, and laughing together with the children.

Happy Encounter at Santa Maria Fatima Jakarta

    Aside from teaching Chinese, I also participated in school activities. During the Open House Day at the school, the sisters set up a few stalls selling various products: handmade rosaries, clothes, shoes, plants, eco-enzyme, and Calamansi drink, etc. To participate, I also set up a game stall with sisters to attract people and to create an opportunity to interact with students from our school or children from outside. I prepared two games: Building the Eiffel Tower and a Target Game. For the “Building the Eiffel Tower” game, which challenged one’s balance and concentration, the player had to stack 15-17 bottle caps without them falling over. In the Target Game, the player had to throw balls at the target to score points. As an opportunity to encounter our students and children, in playing games, we had a wonderful time having fun and laughing together. As St. Mary Euphrasia once said, “Try to make them happy, very happy, by the help of God…nourish them with the overflowing charity which should reign in your hearts.” (Mirror of the Virtues, p. 33)

    Additionally, I had an opportunity to assist the sisters and to accompany students during their recollection at Samadi, a famous retreat house in East Jakarta. The students were looking forward to this precious chance to deepen their spiritual growth and to have quality time with one another. The recollection was enriching and fruitful. There was one experience that impressed me deeply. The sisters used the River of Life as a metaphor to help the students reflect on their own lives. Many students cried when answering a seemingly simple question: “As rivers are hindered by stones, what obstacles have you met in your life?” Many of them wept because they felt that they had never been given a proper chance to express their difficulties and true feelings, and felt neglected and unheard. I was moved to hear their sincere sharing and to see how the students consoled and encouraged one another with kindness and great empathy. At the end of the recollection, I remember clearly one girl shouting with enthusiasm to the sisters present, “Do not quit your job! You are important to us!” This feedback gave us great encouragement and food for thought: “What does it mean to be a Good Shepherd Sister?”

Happy Encounter at Santa Maria Fatima Jakarta

    During this three-month ministry experience in Jakarta, I had a beautiful encounter with the sisters and the students of Santa Maria Fatima School. It was a precious chance for me to get to know people from different linguistic and cultural backgrounds here in Indonesia. Being a Good Shepherd Sister from Taiwan, even with limited Indonesian language skills, I was deeply touched by the sincere smiles and warm acceptance from those whom I encountered. Their sincerity and generosity in welcoming me into their midst have become a precious memory dear to my heart. Through this international experience in Jakarta, I have come to understand more and more deeply the meaning of the Good Shepherd motto: “One Person is of More Value than the Whole World.” Each person I encountered was so precious and unique, deeply loved by God.            

(Written by Sr. Lydia Wang, RGS, Jan 24, 2026)

Peran Yayasan Perlindungan Anak dalam Mendampingi Anak Rentan

Peran Yayasan Perlindungan Anak dalam Mendampingi Anak Rentan

Tidak semua anak tumbuh dalam lingkungan yang aman dan mendukung. Di balik senyum dan keceriaan yang sering kita lihat, ada anak-anak yang harus menjalani hari dengan rasa takut, kebingungan, dan ketidakpastian. Mereka bisa berada dalam situasi kekerasan, penelantaran, eksploitasi, atau kehilangan figur perlindungan yang seharusnya menjadi tempat bergantung.

Dalam kondisi seperti ini, anak bukan hanya membutuhkan bantuan materi, tetapi juga perlindungan, pendampingan, dan kehadiran orang dewasa yang mampu memahami dunia mereka. Di sinilah peran yayasan perlindungan anak menjadi sangat penting. Melalui pendekatan yang menyeluruh, lembaga seperti Gembala Baik Indonesia hadir untuk membantu anak-anak dalam situasi rentan agar tetap memiliki kesempatan tumbuh secara sehat, aman, dan bermartabat.

Mengapa Anak Membutuhkan Perlindungan Khusus?

Anak berada pada fase perkembangan yang sangat sensitif. Secara fisik, emosional, dan mental, mereka belum memiliki kemampuan untuk melindungi diri sendiri dari berbagai risiko sosial. Ketika berada dalam lingkungan yang tidak aman, dampaknya tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga dapat memengaruhi kehidupan mereka di masa depan.

Tanpa perlindungan yang memadai, anak berisiko mengalami:

  • Gangguan perkembangan emosi dan perilaku
  • Trauma psikologis yang berkepanjangan
  • Hambatan dalam pendidikan dan sosialisasi
  • Penurunan rasa percaya diri dan rasa aman

Karena itu, keberadaan yayasan perlindungan anak menjadi penopang penting dalam memastikan hak-hak dasar anak tetap terpenuhi.

Apa Peran Yayasan Perlindungan Anak?

Yayasan perlindungan anak tidak hanya berfungsi sebagai tempat penampungan, tetapi sebagai sistem pendampingan yang komprehensif. Fokusnya adalah membantu anak keluar dari situasi sulit dan mendukung proses pemulihan secara berkelanjutan.

Beberapa peran utama yang dijalankan antara lain:

1. Menyediakan Lingkungan Aman

Langkah pertama yang sangat penting adalah menciptakan ruang yang aman bagi anak. Lingkungan yang stabil membantu anak merasa terlindungi dan mengurangi rasa takut yang sering mereka alami.

Lingkungan aman ini memungkinkan anak:

  • Beristirahat secara emosional
  • Menjalani aktivitas tanpa tekanan
  • Mulai membangun kembali rasa percaya terhadap orang dewasa

2. Pendampingan Psikologis dan Emosional

Banyak anak dalam situasi rentan membawa beban emosi yang tidak mampu mereka ungkapkan secara verbal. Yayasan perlindungan anak menyediakan pendampingan yang membantu anak mengenali dan mengelola perasaannya.

Pendampingan ini membantu:

  • Mengurangi dampak trauma
  • Menstabilkan kondisi emosional
  • Membantu anak kembali percaya diri

3. Pemenuhan Kebutuhan Dasar

Selain aspek psikologis, kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, kesehatan, dan pendidikan juga menjadi perhatian utama.

Pemenuhan ini memastikan bahwa:

  • Anak dapat tumbuh secara fisik dengan lebih sehat
  • Proses belajar tidak terhambat
  • Kualitas hidup anak tetap terjaga

4. Edukasi dan Penguatan Karakter

Yayasan juga berperan dalam memberikan pendidikan dan pembinaan karakter agar anak mampu mengembangkan potensi dirinya.

Proses ini mendukung:

  • Pembentukan nilai moral dan sosial
  • Pengembangan keterampilan hidup
  • Peningkatan kepercayaan diri dan kemandirian

5. Pendampingan Sosial dan Keluarga

Tidak jarang, masalah anak berkaitan erat dengan kondisi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Yayasan perlindungan anak membantu menjembatani proses pemulihan relasi sosial dan keluarga.

Pendampingan ini membantu:

  • Memperbaiki komunikasi
  • Membangun kembali dukungan keluarga
  • Menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak

Lembaga seperti Gembala Baik Indonesia menjalankan peran ini secara berkelanjutan dan berorientasi pada kepentingan terbaik anak.

Dampak Nyata bagi Kehidupan Anak

Ketika pendampingan dilakukan secara konsisten, perubahan positif mulai terlihat. Anak tidak hanya keluar dari situasi berisiko, tetapi juga mendapatkan kembali kesempatan untuk berkembang secara optimal.

Dampak tersebut antara lain:

  • Meningkatnya rasa aman dan kepercayaan diri
  • Stabilitas emosi yang lebih baik
  • Kemampuan belajar yang meningkat
  • Hubungan sosial yang lebih sehat

Proses ini membutuhkan waktu, namun hasilnya memberikan pengaruh jangka panjang bagi masa depan anak.

Penutup

Yayasan perlindungan anak memegang peran yang sangat penting dalam membantu anak-anak yang berada dalam situasi rentan. Di tengah berbagai tantangan sosial yang kompleks, kehadiran lembaga yang peduli dan profesional menjadi penopang utama bagi pemulihan dan pertumbuhan anak.

Melalui pendekatan yang humanis dan berkelanjutan, seperti yang dilakukan oleh Gembala Baik Indonesia, anak-anak tidak hanya diselamatkan dari kondisi berisiko, tetapi juga dibimbing untuk membangun kehidupan yang lebih aman, sehat, dan bermakna. Perlindungan anak bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang masa depan generasi yang akan datang.

Lingkaran Itu Bernama T30: Anak-anak yang Dijaga dan Menjaga

Lingkaran Itu Bernama T30: Anak-anak yang Dijaga dan Menjaga

Pergerakan tahun 2025 telah memasuki bulan Mei. Panas siang hari ini terasa terik. Sayup-sayup terdengar tangis haru dari Ruang Aula Sekolah Santa Maria Fatima. Puluhan anak berkumpul dalam satu lingkaran yang sama. Selama ini, lingkaran inilah yang menyatukan mereka dari berbagai gagasan, perasaan, peristiwa, dan canda tawa: T30. Kini, lingkaran itu terasa berbeda dari biasanya. 

Bagi anggota T30, rangkulan dari teman-teman baik mereka hari ini mungkin akan menjadi rangkulan terakhir. Charlie yang pemberani mungkin tak akan menjumpai Hanny lagi seperti saat dia membela teman-temannya. Kamera Deon tak akan lagi menangkap berbagai momen dramatis di kelompok-kelompok diskusi yang terkadang memaksanya untuk gesit berlari ke sana kemari demi mengabadikan pose terbaik Jenny, Timothy, Anggi, dan Ano yang seolah selalu tahu di mana kamera berada. Michelle tak akan lagi bisa duduk bersama dalam kelompok diskusi bersama Liora dan Anneth atau melontarkan argumentasi terbaik mereka seolah itu adalah hobi kedua setelah tiktokan

Alunan lagu “Lebih Baik” yang dilantunkan oleh CJR menebar suasana kehangatan dan kesenduan. Semua anak menggerakkan kaki sambil mencoba untuk menyesuaikan irama, bergandengan tangan, saling merangkul, dan sesekali saling melempar senyuman. Sementara, mikrofon diambil alih oleh Cilla dan Rachel yang bernyanyi sambil memimpin lagu. Suasana ini tampaknya membuat Aurel semakin tak keruan. Ada perasaan yang sulit ia ungkapkan yang membuncah ingin keluar. Ia menyeka air matanya. Mata Brenda dan teman-teman lain pun berkaca-kaca. Mereka saling merangkul.

Kebersamaan anggota T30 telah terbangun lama. Selama satu tahun, mereka telah bersama dan mengikuti kegiatan secara aktif hingga tak mudah bagi mereka untuk berpisah. Mereka adalah Duta Antikekerasan di sekolah namun peran mereka tak berhenti di sini. Bagi mereka, lingkaran ini adalah ruang aman, tempat serentetan kegiatan dijalankan dengan penuh keakraban. Hari ini adalah hari terakhir mereka bersama. Kakak-kakak kelas mereka sebentar lagi akan lulus sekolah. Hari ini sekaligus menandai pelepasan mereka di T30. 

Mengenali Kenyataan yang Tak Terlihat

Kegiatan T30 kali ini bukan sekadar perpisahan. Kegiatan ini adalah momen penting dalam perjalanan membangun perlindungan anak di sekolah. Selama proses refleksi, mereka menyadari bahwa kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk pukulan ataupun bentakan. Kekerasan bisa berupa ejekan terus-menerus, pengucilan, pengabaian, atau bahkan dianggap terlalu sensitif saat menolak candaan.

Dalam kegiatan yang berlangsung tiga hari itu, mereka diajak untuk mengenali kembali bentuk-bentuk kekerasan yang kerap terjadi di lingkungan sekolah, baik secara fisik, verbal, dan emosional hingga kekerasan berbasis gender. Dari proses diskusi terungkap bahwa sebagian besar dari mereka pernah mengalami atau menyaksikan bentuk kekerasan-kekerasan tersebut bahkan sejak di bangku sekolah dasar. Ternyata, kekerasan tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah tetapi juga di lingkungan keluarga, pertemanan, dan komunitas kerohanian yang mereka ikuti.

Data internal dari proses pemetaan yang dilakukan menunjukkan bahwa kekerasan verbal seperti hinaan atau ejekan merupakan bentuk kekerasan yang paling sering muncul, disusul dengan kekerasan psikologis berupa pengucilan atau perundungan diam-diam. Kekerasan seksual pun bisa terjadi lewat media sosial yang kerap mereka gunakan. Fakta ini menyadarkan mereka tentang masalah kekerasan di lingkungan sekolah yang sering kali tidak terlihat oleh guru maupun orang tua. 

Mengapa T30 Penting?

Di tengah kenyataan tersebut, keberadaan T30 menjadi semakin relevan. T30 bukan hanya sebagai simbol atau kegiatan program melainkan sebuah bentuk nyata dari pelibatan anak dalam mencegah dan merespons kekerasan yang terjadi di antara mereka. T30 yang dibentuk sebagai tim antikekerasan di sekolah adalah manifestasi dari pendekatan perlindungan anak berbasis sekolah dan komunitas. Anggota T30 bukan hanya menjadi peserta pelatihan tetapi sekaligus mentor sebaya serta penggerak kegiatan positif di sekolah.

Dalam berkegiatan, anggota T30 hadir bukan hanya sebagai peserta. Mereka juga berperan sebagai panitia yang menyusun agenda, memimpin diskusi, menyiapkan permainan (ice breaking), merancang yel-yel, dan membentuk kelompok. Sesi-sesi dibuat cair dan menyenangkan sesuai dengan gaya remaja yang lincah dan spontan. Gelak tawa mereka selalu mewarnai permainan. Ketika sesi refleksi dimulai, mereka dengan cepat akan menyesuaikan diri dan berubah menjadi serius serta saling mendengarkan.

Kegiatan T30 juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan harapan mereka akan sekolah yang aman dan nyaman. Melalui beberapa sesi, mereka saling berbagi pengalaman dan saling belajar. Mereka mengenali bahwa setiap orang bisa mempunyai luka namun setiap orang juga bisa belajar untuk saling menjaga.

Bukan Sekadar Cerita, Ini Kenyataan!

Apa yang mereka alami dan diskusikan dalam lingkaran-lingkaran kecil itu sebenarnya merefleksikan sebuah gambaran tentang kekerasan yang terjadi pada anak dalam perspektif yang lebih luas. Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) seperti yang dikutip oleh Tempo (2024), sepanjang awal tahun 2024 tercatat 141 aduan kekerasan terhadap anak dan sekitar 35% di antaranya terjadi di lingkungan sekolah. Beberapa kasus bahkan berujung pada trauma mendalam dan upaya bunuh diri.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa sekolah masih menyisakan banyak ruang yang tidak aman bagi anak. Di tengah kenyataan ini, kehadiran anak-anak sebagai bagian dari solusi seperti yang terlihat dari kelompok T30 menjadi sangat penting bukan saja karena mereka memahami persoalan dari sisi teman sebaya tetapi karena mereka mampu merawat ruang yang mereka bangun sendiri.

Ruang Aman yang Diciptakan, Bukan Diberikan

Apa yang menjadikan kegiatan ini bermakna tidak terletak pada fasilitas atau materinya tetapi karena anak-anak diberi ruang untuk bertumbuh dan dipercaya. Mereka tidak hanya diajak berbicara soal kekerasan tetapi juga diajak untuk memaknai relasi dan tanggung jawab serta empati.

Selama kegiatan, anggota T30 menuliskan komitmen pribadi mereka. Ada anak yang ingin menjadi lebih berani membela teman; ada yang ingin berhenti mengejek orang lain; ada pula yang ingin lebih peka terhadap perasaan temannya, dan lain-lainnya. Komitmen-komitmen kecil ini menjadi benih bagi sebuah perubahan yang lebih besar.

Dengan pendekatan ini, Karya Sosial Gembala Baik tidak hanya menyasar pada penurunan angka kekerasan tetapi pembangunan budaya baru di lingkungan sekolah seperti budaya saling jaga, saling percaya, dan partisipasi yang setara.

Harapan yang Terus Menyala

Pada hari pertama dalam sesi refleksi satu tahun pelaksanaan kegiatan, Charlie membagikan kesannya, “Laki-laki juga bisa mengalami kekerasan. Saya sering melihat teman saya diolok-olok dan terkadang sudah berlebihan. Saya bingung apakah harus melapor kepada guru atau tidak tapi akhirnya saya tahu apa yang harus dilakukan.” Kalimat itu mungkin mewakili apa yang dirasakan oleh banyak peserta lainnya. T30 telah menjadi tempat bertumbuh, mengenali luka, dan membangun kekuatan diri untuk menyadari bahwa mereka tidak sendirian.

Harapannya, kegiatan tidak berakhir di sini. Generasi baru akan dibentuk. Cerita dan semangat anak-anak yang telah lebih awal menjadi bagian dari T30 akan dilanjutkan dengan cara mereka sendiri yang terus berubah dan berkembang.

Selama masih ada yang percaya bahwa anak-anak bisa dijaga dan menjaga, selama itu pula lingkaran ini akan terus hidup. Karya Sosial Gembala Baik menebarkan nilai-nilai unggul, kasih, dan belas kasih. #TransformasiAdalahKita

Penulis: Jelita Poerba
Editor: Camelia Tri Lestari

Lokakarya Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan : Solusi Konkret untuk Kekerasan Berbasis Gender

Lokakarya Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan : Solusi Konkret untuk Kekerasan Berbasis Gender

Dalam rangka memperingati 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP), sebuah lokakarya dilaksanakan pada 14 Desember 2024 di Aula Sekolah Santa Maria Fatima, Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur. Lokakarya ini diselenggarakan oleh Yayasan Gembala Baik bekerja sama dengan APIK (Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan) dan Koalisi Perempuan Indonesia, serta didukung oleh pemerintah setempat. Acara ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan menyusun langkah konkret untuk mengatasi kekerasan berbasis gender.

Kampanye 16 HAKTP sendiri merupakan inisiatif global yang dimulai pada 25 November, Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, hingga 10 Desember, Hari Hak Asasi Manusia. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan, mulai dari kekerasan fisik, psikologis, seksual, ekonomi, hingga kekerasan berbasis teknologi. Di Indonesia, Komnas Perempuan mencatat 457.895 kasus kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2023, dengan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menjadi kategori terbesar. Setidaknya terdapat 35 perempuan di Indonesia termasuk anak perempuan menjadi korban kekerasan setiap harinya.

Lokakarya ini dihadiri oleh lebih dari 40 peserta, termasuk perwakilan komunitas lokal, perwakilan Pengurus Kelompok Perempuan : PKK, DAWIS, Posyandu, dan Jumantik dan lembaga pemerintah. Narasumber utama adalah AKP Sri Yatmini, SH (Kanit 6 SAT Reskrim Unit PPA), Mike Verawati (Sekjen Koalisi Perempuan Indonesia), Legianti (anggota SMC (Singel Mother Community) sebagai penyintas dan Nur Amalia, SH (Pendiri APIK).

Sr. Agatha RGS, dalam sambutannya, mengundang semua pihak untuk bersama-sama menciptakan keadilan dan perdamaian di lingkungan masing-masing. “Keadilan dapat dimulai dari langkah kecil, melalui rasa saling menghormati dan membangun komunitas yang suportif,” ungkapnya, seraya menekankan pentingnya keberanian untuk bertindak demi perubahan.

Dalam diskusi, Nur Amalia memaparkan bagaimana film “Gendhuk” menggambarkan realitas perempuan yang hidup dalam keterbatasan ekonomi dan sosial. Sementara itu, Mike Verawati menjelaskan pentingnya memahami Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019, yang menaikkan batas usia minimal pernikahan menjadi 19 tahun. “Jika Perempuan tidak paham tentang kekerasan terhadap Perempuan maka Perempuan tidak bisa memberi pembekalan terhadap anak-anaknya,” jelasnya. AKP Sri Yatmini menyoroti kasus-kasus kekerasan seksual berbasis media sosial yang semakin sering terjadi di Jakarta Timur.

Ibu Legianti, seorang penyintas kekerasan domestik, berbagi cerita tentang perjuangannya selama lebih dari satu dekade sebagai ibu tunggal. Ia menekankan pentingnya dukungan komunitas dalam proses pemulihan korban.

Workshop menghasilkan beberapa rekomendasi penting, termasuk pembentukan posko pengaduan di tingkat RT, pelatihan hukum dasar (Paralegal) bagi masyarakat, dan penguatan Pusat Informasi Keluarga (PIK) juga kerinduan untuk mendirikan sekolah Perempuan di RW 01 & 02. Pada penutupan acara, peserta menyepakati komitmen untuk melanjutkan edukasi kesetaraan gender di komunitas masing-masing.

Penulis: Jelita Poerba

error: Content is protected !!