Lingkaran Itu Bernama T30: Anak-anak yang Dijaga dan Menjaga
Pergerakan tahun 2025 telah memasuki bulan Mei. Panas siang hari ini terasa terik. Sayup-sayup terdengar tangis haru dari Ruang Aula Sekolah Santa Maria Fatima. Puluhan anak berkumpul dalam satu lingkaran yang sama. Selama ini, lingkaran inilah yang menyatukan mereka dari berbagai gagasan, perasaan, peristiwa, dan canda tawa: T30. Kini, lingkaran itu terasa berbeda dari biasanya.
Bagi anggota T30, rangkulan dari teman-teman baik mereka hari ini mungkin akan menjadi rangkulan terakhir. Charlie yang pemberani mungkin tak akan menjumpai Hanny lagi seperti saat dia membela teman-temannya. Kamera Deon tak akan lagi menangkap berbagai momen dramatis di kelompok-kelompok diskusi yang terkadang memaksanya untuk gesit berlari ke sana kemari demi mengabadikan pose terbaik Jenny, Timothy, Anggi, dan Ano yang seolah selalu tahu di mana kamera berada. Michelle tak akan lagi bisa duduk bersama dalam kelompok diskusi bersama Liora dan Anneth atau melontarkan argumentasi terbaik mereka seolah itu adalah hobi kedua setelah tiktokan.
Alunan lagu “Lebih Baik” yang dilantunkan oleh CJR menebar suasana kehangatan dan kesenduan. Semua anak menggerakkan kaki sambil mencoba untuk menyesuaikan irama, bergandengan tangan, saling merangkul, dan sesekali saling melempar senyuman. Sementara, mikrofon diambil alih oleh Cilla dan Rachel yang bernyanyi sambil memimpin lagu. Suasana ini tampaknya membuat Aurel semakin tak keruan. Ada perasaan yang sulit ia ungkapkan yang membuncah ingin keluar. Ia menyeka air matanya. Mata Brenda dan teman-teman lain pun berkaca-kaca. Mereka saling merangkul.
Kebersamaan anggota T30 telah terbangun lama. Selama satu tahun, mereka telah bersama dan mengikuti kegiatan secara aktif hingga tak mudah bagi mereka untuk berpisah. Mereka adalah Duta Antikekerasan di sekolah namun peran mereka tak berhenti di sini. Bagi mereka, lingkaran ini adalah ruang aman, tempat serentetan kegiatan dijalankan dengan penuh keakraban. Hari ini adalah hari terakhir mereka bersama. Kakak-kakak kelas mereka sebentar lagi akan lulus sekolah. Hari ini sekaligus menandai pelepasan mereka di T30.
Mengenali Kenyataan yang Tak Terlihat
Kegiatan T30 kali ini bukan sekadar perpisahan. Kegiatan ini adalah momen penting dalam perjalanan membangun perlindungan anak di sekolah. Selama proses refleksi, mereka menyadari bahwa kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk pukulan ataupun bentakan. Kekerasan bisa berupa ejekan terus-menerus, pengucilan, pengabaian, atau bahkan dianggap terlalu sensitif saat menolak candaan.
Dalam kegiatan yang berlangsung tiga hari itu, mereka diajak untuk mengenali kembali bentuk-bentuk kekerasan yang kerap terjadi di lingkungan sekolah, baik secara fisik, verbal, dan emosional hingga kekerasan berbasis gender. Dari proses diskusi terungkap bahwa sebagian besar dari mereka pernah mengalami atau menyaksikan bentuk kekerasan-kekerasan tersebut bahkan sejak di bangku sekolah dasar. Ternyata, kekerasan tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah tetapi juga di lingkungan keluarga, pertemanan, dan komunitas kerohanian yang mereka ikuti.
Data internal dari proses pemetaan yang dilakukan menunjukkan bahwa kekerasan verbal seperti hinaan atau ejekan merupakan bentuk kekerasan yang paling sering muncul, disusul dengan kekerasan psikologis berupa pengucilan atau perundungan diam-diam. Kekerasan seksual pun bisa terjadi lewat media sosial yang kerap mereka gunakan. Fakta ini menyadarkan mereka tentang masalah kekerasan di lingkungan sekolah yang sering kali tidak terlihat oleh guru maupun orang tua.
Mengapa T30 Penting?
Di tengah kenyataan tersebut, keberadaan T30 menjadi semakin relevan. T30 bukan hanya sebagai simbol atau kegiatan program melainkan sebuah bentuk nyata dari pelibatan anak dalam mencegah dan merespons kekerasan yang terjadi di antara mereka. T30 yang dibentuk sebagai tim antikekerasan di sekolah adalah manifestasi dari pendekatan perlindungan anak berbasis sekolah dan komunitas. Anggota T30 bukan hanya menjadi peserta pelatihan tetapi sekaligus mentor sebaya serta penggerak kegiatan positif di sekolah.
Dalam berkegiatan, anggota T30 hadir bukan hanya sebagai peserta. Mereka juga berperan sebagai panitia yang menyusun agenda, memimpin diskusi, menyiapkan permainan (ice breaking), merancang yel-yel, dan membentuk kelompok. Sesi-sesi dibuat cair dan menyenangkan sesuai dengan gaya remaja yang lincah dan spontan. Gelak tawa mereka selalu mewarnai permainan. Ketika sesi refleksi dimulai, mereka dengan cepat akan menyesuaikan diri dan berubah menjadi serius serta saling mendengarkan.
Kegiatan T30 juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan harapan mereka akan sekolah yang aman dan nyaman. Melalui beberapa sesi, mereka saling berbagi pengalaman dan saling belajar. Mereka mengenali bahwa setiap orang bisa mempunyai luka namun setiap orang juga bisa belajar untuk saling menjaga.
Bukan Sekadar Cerita, Ini Kenyataan!
Apa yang mereka alami dan diskusikan dalam lingkaran-lingkaran kecil itu sebenarnya merefleksikan sebuah gambaran tentang kekerasan yang terjadi pada anak dalam perspektif yang lebih luas. Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) seperti yang dikutip oleh Tempo (2024), sepanjang awal tahun 2024 tercatat 141 aduan kekerasan terhadap anak dan sekitar 35% di antaranya terjadi di lingkungan sekolah. Beberapa kasus bahkan berujung pada trauma mendalam dan upaya bunuh diri.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa sekolah masih menyisakan banyak ruang yang tidak aman bagi anak. Di tengah kenyataan ini, kehadiran anak-anak sebagai bagian dari solusi seperti yang terlihat dari kelompok T30 menjadi sangat penting bukan saja karena mereka memahami persoalan dari sisi teman sebaya tetapi karena mereka mampu merawat ruang yang mereka bangun sendiri.
Ruang Aman yang Diciptakan, Bukan Diberikan
Apa yang menjadikan kegiatan ini bermakna tidak terletak pada fasilitas atau materinya tetapi karena anak-anak diberi ruang untuk bertumbuh dan dipercaya. Mereka tidak hanya diajak berbicara soal kekerasan tetapi juga diajak untuk memaknai relasi dan tanggung jawab serta empati.
Selama kegiatan, anggota T30 menuliskan komitmen pribadi mereka. Ada anak yang ingin menjadi lebih berani membela teman; ada yang ingin berhenti mengejek orang lain; ada pula yang ingin lebih peka terhadap perasaan temannya, dan lain-lainnya. Komitmen-komitmen kecil ini menjadi benih bagi sebuah perubahan yang lebih besar.
Dengan pendekatan ini, Karya Sosial Gembala Baik tidak hanya menyasar pada penurunan angka kekerasan tetapi pembangunan budaya baru di lingkungan sekolah seperti budaya saling jaga, saling percaya, dan partisipasi yang setara.
Harapan yang Terus Menyala
Pada hari pertama dalam sesi refleksi satu tahun pelaksanaan kegiatan, Charlie membagikan kesannya, “Laki-laki juga bisa mengalami kekerasan. Saya sering melihat teman saya diolok-olok dan terkadang sudah berlebihan. Saya bingung apakah harus melapor kepada guru atau tidak tapi akhirnya saya tahu apa yang harus dilakukan.” Kalimat itu mungkin mewakili apa yang dirasakan oleh banyak peserta lainnya. T30 telah menjadi tempat bertumbuh, mengenali luka, dan membangun kekuatan diri untuk menyadari bahwa mereka tidak sendirian.
Harapannya, kegiatan tidak berakhir di sini. Generasi baru akan dibentuk. Cerita dan semangat anak-anak yang telah lebih awal menjadi bagian dari T30 akan dilanjutkan dengan cara mereka sendiri yang terus berubah dan berkembang.
Selama masih ada yang percaya bahwa anak-anak bisa dijaga dan menjaga, selama itu pula lingkaran ini akan terus hidup. Karya Sosial Gembala Baik menebarkan nilai-nilai unggul, kasih, dan belas kasih. #TransformasiAdalahKita
Penulis: Jelita Poerba
Editor: Camelia Tri Lestari