KALA TANGIS MENJELMA SENANDUNG
“Ibu, ibu, saya mau jadi dirigen!” Suara manja itu menghangatkan pagi yang penuh semangat. Tubuh kecilnya berdiri tegak di hadapan teman-temannya yang sedang berbaris. Dengan wajah tenang dan senyum sederhana, ia seperti berkata: Aku bisa, izinkan aku mencobanya. Ayunan kedua tangannya yang pelan namun pasti mengiringi lantunan lagu Garuda Pancasila yang menggema di udara.
Aku tertegun. Ada getaran halus yang menyusup ke dalam relung hatiku, mengalir lembut hingga membuat mataku berkaca-kaca. Aku merasakan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar seorang anak yang ingin memimpin lagu. Di balik sosoknya yang mungil, aku mengerti ada kisah panjang yang tidak semua orang dapat melihatnya seperti tentang penolakan, perjuangan, dan keberanian mengakui sosok yang awalnya enggan untuk dianggap ada.
Di Taman Belajar Gembala Baik (TBGB), kami membuka diri dan merangkul setiap anak karena anak-anak berhak untuk mendapatkan tempat yang dapat membuat mereka merasa diterima, bertumbuh, dan berkembang tanpa terhalang oleh latar belakang, usia, dan keterbatasan yang dimiliki. Gracia adalah salah satu anak istimewa yang telah Tuhan percayakan kepada kami. Langkahnya perlahan. Tatapan matanya tajam, terkadang penuh curiga. Ia datang untuk pertama kali bersama ibunya. Saat itu, aku menangkap sorot mata sang ibu yang penuh harapan dan sekaligus luka. Beliau bercerita tentang bagaimana putrinya ditolak berkali-kali oleh beberapa sekolah. Penolakan terjadi bukan karena orang tua yang tidak mampu membayar uang sekolah melainkan perbedaan yang dimiliki oleh Gracia.
Pada usianya yang kurang lebih setara dengan anak kelas 2 SD, Gracia belum dapat menerima pesan ataupun kalimat yang diucapkan oleh orang lain sehingga ia didaftarkan masuk ke jenjang PAUD. Sesekali, ia menunjukkan amarah, berteriak, atau lari dan menyendiri. Ia belum bisa berbicara dengan jelas. Bahkan, ia dianggap sulit menyesuaikan diri. Setiap penolakan telah menorehkan luka di hati sang ibu namun ia tetap menyalakan doa yang tak kunjung putus: agar ada tempat bagi sang buah hati untuk bermain layaknya anak kecil yang ingin mengenal berjuta permainan.
“Setiap pribadi jauh lebih berharga daripada seluruh dunia” adalah pesan spiritual yang diwariskan oleh Santa Maria Euphrasia Pelletier, pendiri Kongregasi Bunda Pengasih Gembala Baik. Warisan ini selalu melekat dan membakar jiwa-jiwa kami. Kami membuka pintu selebar-lebarnya bagi mereka yang ditolak, memberi ruang aman bagi mereka yang gelisah, dan merangkul mereka yang haus akan penerimaan. Sambutan yang hangat dan senyum penuh ketulusan siap menemani Gracia tumbuh menjadi diri sendiri.
Setiap pagi, aku menantikan kehadiran Gracia sekadar ingin memastikan suasana hatinya. Meski ia selalu melupakan kesepakatan kelas, bermain sesuai keinginannya, mencoret-coret buku yang ada di hadapannya, berteriak-teriak, dan lebih-lebih lagi, menarik atau mendorong temannya hingga menangis, kami tiada henti menggandengnya karena dia adalah pribadi yang sangat berharga. Tingkah polos dan imajinasi Gracia terekspresikan lewat boneka dinosaurus yang menjadi temannya bercerita. Momen ini mengajarkan kepada kami untuk memanfaatkan beberapa media dalam penyampaian pesan kepadanya. Ini tidak mudah mengingat keinginan dan suasana hatinya yang tidak menentu. Ia bisa seketika berteriak, menangis, ataupun mengamuk dengan hebatnya. Situasi menjadi lebih sulit ketika ia menyadari bahwa ibunya tidak ada di dekatnya, sampai-sampai ia mengalami tantrum. Ia akan berlari sambil menjerit seolah ingin memastikan dunia tahu betapa besar rasa kecewanya.
Peristiwa ini mengingatkan guru atau pendamping untuk menyiapkan tenaga ekstra dan hati yang lebih sabar untuk mengatasi keadaan. Beberapa kali, suasana kelas menjadi gaduh dan anak-anak lain ikut resah. Kami perlu waktu cukup lama untuk menenangkan Gracia. Dari pengalaman ini, kami belajar tentang makna kesabaran dan belas kasih demi mendampingi anak-anak yang unik. Upaya yang disertai dengan kesabaran tidak pernah sia-sia. Dua bulan terlewati sudah. Tanpa kami sadari, kami pun tumbuh bersama dengan seorang anak yang unik yang gemar berjalan ke sana ke mari. Lambat laun, Gracia mulai dapat mengikuti pesan atau kesepakatan sederhana. Ia juga belajar antri, makan bersama, berada dalam kelas hingga lonceng tanda istirahat berbunyi, belajar menulis dengan tenang, dan berani berdiri di hadapan teman-temannya untuk memimpin lagu dengan mimik wajah yang penuh percaya diri. Satu hal lagi yang mengejutkan adalah ia mampu bermain peran dalam kegiatan pentas seni di sekolah.
Hatiku tak keruan. Aku sungguh terharu melihat Gracia berbaris bersama teman-temannya dan mengikuti kegiatan dengan tertib. Aku menahan air mataku agar tak jatuh. Seketika, terbayang hari-hari awal ia masuk sekolah ketika kecemasan, kebingungan, dan kelelahan bercampur menjadi satu. Semua itu akhirnya lebur oleh api cinta yang membara untuk menyambut setiap pribadi dengan penuh kasih. Kini, Gracia bukan hanya diterima di kelas tetapi juga di hati teman-temannya. Mereka mulai terbiasa dengan keunikannya, bahkan ada yang menolongnya pada saat ia mengalami kesulitan untuk menulis atau menyampaikan pesan.
Sejatinya, mendidik itu tidak berhenti pada menyiapkan anak didik yang berprestasi secara akademik saja namun yang tak kalah penting adalah membentuk hati mereka agar mampu menerima perbedaan, belajar tentang ketulusan, dan berani untuk percaya diri. Dari langkah-langkah kecil Gracia, aku belajar tentang arti pengharapan. Betapa sering kita mengukur anak-anak dengan standar yang seragam, padahal setiap anak adalah unik. Gracia menunjukkan kepada kita bahwa di balik kegelisahan, kebebasan, dan tingkahnya yang tak jarang membuat kelas menjadi gaduh, tersimpan sebentuk jiwa yang kokoh yang penuh dengan imajinasi, keberanian, dan keinginan untuk diterima.
Makna dari kisah ini adalah ketulusan tidak selalu datang dari kata-kata indah tetapi sering kali dari laku sederhana seorang anak. Gracia telah mengajariku untuk lebih sabar, lebih peka, dan lebih terbuka terhadap keajaiban-keajaiban kecil yang Tuhan titipkan lewat anak-anak yang dipercayakan kepada kami. Mari berikan ruang bagi setiap anak yang unik di sekitar kita! Gracia merupakan potret dari sekian banyak anak yang kehadirannya seolah aib bagi orang tua. Anak-anak seperti dirinya sering dipandang tidak ideal namun sesungguhnya mereka menyimpan mutiara tak ternilai yang akan berkilau saat tersentuh oleh cahaya.
Melihatnya bernyanyi dengan serius, berdoa dengan tenang, dan mengikuti kegiatan selama di sekolah tanpa tangisan serta teriakan atau jeritan kekecewaan, aku hanya mampu bersyukur dan berucap dalam hati, “Terima kasih, Tuhan”. Sosok mungil ini membuatku semakin mengerti akan arti ketulusan.
Penulis: Lusia Supriawati
Editor: Camelia Lestari