Cuaca siang hari ini begitu menyengat. Sinta datang ke Rumah Belajar di Dusun Batu Payung bersama adiknya yang bernama Oni. Sinta adalah seorang gadis kecil berusia 8 tahun sedangkan Oni berusia 6 tahun.
“Sinta, bolehkah aku main ke rumahmu?” tanyaku kepada Sinta.
“Boleh, Suster, tapi bagaimana caranya Suster tahu rumahku, kan belum pernah datang!” ujarnya cepat. Pertanyaan itu sangat masuk akal.
“Bagaimana caranya ya?” Aku menjawab dengan pertanyaan tapi Sinta dengan sigap menimpali.
“Kalau begitu, Suster ikut saya pulang nanti ya …..” Sinta seperti berusaha keras untuk mencarikan jalan keluar.
“Baik,” jawabku sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, kami kedatangan tamu. Sinta mulai terlihat gusar. Dengan wajah agak cemberut ia berujar, “Suster, ayo cepat, saya sudah mau pulang!”
Aku meminta Sinta untuk bersabar karena sedang ada tamu. Rupanya, Sinta betul-betul sudah tak bisa menungguku dan akhirnya memutuskan pulang sembari berkata, “Saya pulang karena lama menunggu Suster tapi nanti saya tunggu Suster di bawah pohon mangga dekat rumah supaya Suster tidak tersesat yaaa …..” Aku tersenyum dan mengangguk tanda setuju.
Kurang lebih satu jam kemudian, aku dan Ina sudah siap untuk berkunjung. Kami berjalan kaki menyusuri jalan tanah berbatu yang akan mengarahkan kami menuju ke rumah Sinta. Kami mengingat-ingat penanda rumah Sinta. Perhatian kami tertuju pada pohon-pohon yang berjajar di sepanjang jalan. Ya, pohon mangga! Setelah beberapa saat, kami menyadari bahwa beberapa rumah memiliki pohon mangga di depan rumah mereka. Sepanjang jalan, rumah-rumah tampak sepi. Tak ada yang bisa ditanya. “Barangkali, orang-orang di kampung ini masih belum pulang kerja,” batinku.
Janji di Bawah Pohon Mangga
Di tengah perjalanan, aku bergumam, “Wah, ternyata ada beberapa rumah yang punya pohon mangga. Bagaimana cara kita tahu rumah Sinta ya?” Aku mulai gelisah. “Semoga Sinta benar-benar menunggu di bawah pohon mangga,“ ucapku penuh harap. Itulah harapan yang terselip selama kami berjalan.
Tak lama, dari kejauhan kami melihat Sinta dan Oni berdiri di bawah pohon mangga. Dengan kegirangan mereka melambaikan tangan. Kami tertawa lega dan membalas lambaian tangan mereka sambil mempercepat langkah.
“Terima kasih, Sinta dan Oni, kalian sudah menunggu sehingga kami tidak tersesat!” Sinta dan Oni membalas dengan senyuman gembira sebelum akhirnya kami melangkahkan kaki memasuki rumah mereka yang berjarak sekitar satu meter dari pohon mangga. Kedatangan kami disambut hangat oleh kedua orang tua Sinta. Rupanya, ayah Sinta sedang memasak dan ibunya baru selesai mencuci. Keduanya baru pulang dari perkebunan sawit, tempat mereka bekerja. Mereka menuturkan bahwa pekerjaan rumah tangga selalu dikerjakan berdua dan tidak ada pembagian kerja karena sama-sama sibuk bekerja.
Perbincangan Hangat di Atas Tikar Sederhana
Kami duduk di atas tikar sederhana. Obrolan aku buka dengan menanyakan tentang anak-anak mereka khususnya Oni yang sudah berusia 6 tahun tapi belum bersekolah. Ayah Sinta langsung menjawab. Mereka kesulitan karena tidak ada yang bisa mengantarkan Oni ke sekolah. “Kalau bersama kakaknya, kami khawatir mereka akan berlaku seperti “Tom and Jerry,” kata ayah Sinta. Mereka masih memikirkan cara agar anak bisa bersekolah dan tetap aman.
Bagi ayah Sinta, pendidikan anak-anak diutamakan dan ia akan berusaha untuk menyekolahkan anaknya termasuk mengusahakan les bila diperlukan. Ia juga menyampaikan bahwa dalam mendidik anak-anaknya ia sering bertindak keras. Selain dengan suara yang lantang, ia terkadang memukul anak dengan harapan anak-anak akan patuh dan mengikuti apa yang diinginkannya. Tanpa sadar, aku menyela dengan bertanya kepada Sinta. Kulihat raut mukanya berubah.
“Sinta, apakah kamu takut dengan Ayah?” tanyaku perlahan.
Sinta menjawab lirih, “Takut.”
“Oh, bagaimana dengan Ibu? Apakah kamu takut juga?” Sinta menjawab dengan muka serius yang menunjukkan rasa takut.
“Wah, bagaimana ini Bapak dan Ibu kalau Sinta takut?” Mereka saling pandang. Pertanyaanku tak terjawab. Kami sama-sama terdiam. Tanpa terasa senja mulai temaram. Keadaan di luar tampak gelap. Ternyata, listrik padam. Kami pun berpamitan. Sinta dan Oni ikut mengantarkan kami sampai ke pintu. Kami pulang dengan penerangan dari cahaya senter.
Realita Hak Anak di Desa Dampingan Marau
Desa Batu Payung merupakan desa dampingan Susteran Gembala Baik di Marau. Salah satu fakta sosial yang ditemui di sini adalah minimnya kesadaran orang tua terhadap hak-hak anak. Salah satunya adalah hak untuk mendapatkan perlindungan dan memperoleh pendidikan. Sayangnya, persoalan-persoalan seperti perkawinan anak dan putus sekolah dari pendidikan dasar masih kerap terjadi. Seto Mulyadi atau yang lebih dikenal dengan Kak Seto, seorang psikolog anak yang aktif memperjuangkan hak anak mengatakan, “Anak adalah anugerah Tuhan yang harus dilindungi dan diberi pendidikan terbaik.” Pernyataan ini menekankan pada pentingnya pemenuhan hak anak mengingat banyaknya kekerasan terhadap anak sementara kepastian untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas masih jauh dari harapan. Hal ini sangat dirasakan terlebih di daerah yang termasuk dalam wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) di Indonesia.
Laporan KPAI tahun 2024 yang dimuat dalam laman web KPAI: http://www.kpai.go.id menyebutkan bahwa populasi anak di Indonesia sekitar 88,7 juta jiwa. Masa depan Indonesia sangat bergantung pada kualitas anak-anak saat ini namun mirisnya anak-anak sering menjadi objek untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan orang dewasa di sekitarnya. Sepanjang tahun 2024, KPAI telah menerima 2.057 pengaduan yang terbagi ke dalam dua klaster yaitu Klaster Pemenuhan Hak Anak (PHA) dan Klaster Perlindungan Khusus Anak (PKA).
Kasus anak dalam lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif masih mendominasi pengaduan yang diterima oleh KPAI yakni sebanyak 1.097 kasus. Pengawasan dalam Klaster PHA meliputi pemilu ramah anak dan percepatan pemenuhan hak anak atas identitas; pencegahan perkawinan anak; dispensasi nikah; isu-isu pengasuhan; anak putus sekolah; tengkes (stunting); dan implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di tempat pendidikan dan tempat bermain anak. Sementara itu, Klaster PKA melakukan pengawasan terkait kekerasan pada anak; perundungan; Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA); eksploitasi anak secara seksual dan ekonomi; anak dan terorisme; bunuh diri anak; perlindungan anak di ruang digital; pekerja anak; dan anak minoritas serta wilayah 3T.
Berlandaskan Motto “Setiap Pribadi Begitu Berharga”
Keprihatinan terhadap persoalan anak ini mendorong diwujudkannya pelayanan yang ditujukan bagi perlindungan anak dengan melakukan berbagai macam program pencegahan kawin usia anak dan putus sekolah dari pendidikan dasar. Pelayanan ini dilandasi oleh sebuah semboyan dari Santa Maria Euphrasia, pendiri Kongregasi Suster-suster Gembala Baik, yang berbunyi “SETIAP PRIBADI JAUH LEBIH BERHARGA DARIPADA SELURUH DUNIA.” Semboyan ini mendorong dilakukannya intervensi pelayanan yang bertujuan dasar untuk memulihkan hak-hak, menegakkan martabat manusia, dan memberdayakan kehidupan. Pelayanan dilaksanakan dalam semangat kemitraan bersama Mitra Awam atau Mitra Perutusan yang memiliki semangat dan karisma Gembala Baik melalui kerja sama dengan para pemangku kepentingan seperti perangkat desa, sekolah, tokoh adat, tokoh agaman, dan sekolah serta orang tua yang secara langsung mendampingi dan mengasuh anak di dalam keluarga.
Rumah Belajar & Kunjungan Rumah: Sarana Membangun Relasi
Pendekatan dilakukan melalui interaksi secara langsung dengan anak dengan menyediakan rumah belajar yang berlokasi di desa dampingan. Melalui rumah belajar ini, anak bisa secara bebas belajar dan bermain di luar jam sekolah. Dari perjumpaan di rumah belajar, anak-anak dapat bercerita tentang pengalaman bersama orang tua di rumah dan di sekolah. Rumah belajar telah menjadi sarana pokok dalam membangun relasi dengan anak. Kami yang terlibat secara langsung akan mendengarkan, bermain bersama, dan memfasilitasi anak belajar secara nonformal. Selain itu, kunjungan ke rumah-rumah (home visit) berperan penting dalam menggali pengalaman orang tua dalam mendampingi anak di keluarga selain melihat sejauh mana pemahaman orang tua tentang hak anak.
Kesempatan dalam membangun komunikasi dan relasi membuka ruang aman bagi anak untuk mengekspresikan dirinya. Kegiatan kunjungan rumah menjadi sangat menarik karena dimulai dengan identifikasi anak yang akan dikunjungi; pengecekan alamat rumah; penentuan waktu kunjungan sesuai latar belakang keluarga anak; penyampaian maksud serta tujuan kunjungan yang acap kali menjadi kabur ketika kami kesulitan dalam menyampaikan pesan; dan terakhir, penulisan tentang kunjungan itu menjadi kisah inspiratif yang dapat mengajak banyak orang untuk menjadi bagian dari kisah tersebut.
Perubahan yang terlihat dari aktivitas ini adalah munculnya keterbukaan untuk bekerja sama baik dari pihak sekolah, orang tua, desa, tokoh agama, dan tokoh adat untuk mendukung pelayanan Gembala Baik. Relasi yang saling mendukung pun perlahan-lahan akan terbangun. Anak-anak menjadi semakin rajin bersekolah dan memiliki peningkatan kemauan belajar. Berkembangnya relasi dengan anak-anak membantu kami dalam mendorong mereka agar tidak putus sekolah dari tingkat pendidikan dasar dan menikah di usia anak.
Pengalaman perjumpaan dalam kunjungan rumah maupun di rumah belajar dengan anak telah mengingatkan kami pada pesan Paus Fransiskus tentang budaya perjumpaan yang digerakkan melalui tindakan mendengarkan; berhenti sejenak bersama mereka; membiarkan diri tergerak oleh belas kasih; lalu mendekat; menyentuh; serta berkata, “Jangan menangis;” dan memberikan setidaknya setetes kehidupan. Itulah sebabnya “setiap perjumpaan berbuah.” Setiap perjumpaan dapat mengembalikan orang dan sesuatu pada tempatnya. Kiranya, kita perlu untuk bekerja dan memohon rahmat dalam membangun budaya perjumpaan yakni perjumpaan yang berbuah dan perjumpaan yang mengembalikan kepada setiap orang.
Buah dari Sebuah Perjumpaan
Kunjungan rumah telah menjadi sebuah sarana dalam membangun budaya perjumpaan. Tanpa disadari, perubahan bisa terjadi dari kedua belah pihak, baik pihak yang mengunjungi maupun yang dikunjungi. Perubahan itu sendiri ada yang kasat mata dan tidak kasat mata seperti perubahan cara pandang serta cara berpikir dalam pengambilan keputusan. Sampai saat ini, kami masih terus berproses dan berharap akan semakin banyak lagi orang-orang yang mau terlibat dalam menciptakan perubahan bermakna bagi pemenuhan hak-hak anak di Marau.
Maukah kalian menjadi bagian dari kisah perubahan ini? Yuk, bergabung dalam Mitra Misi Gembala Baik!
Penulis: Sr. Chatarina Supatmiyati, RGS
Editor: Camelia Tri Lestari