Barnabas Sarikromo

HIDUPKATOLIK.com – Paus Yohanes Paulus II, dalam khotbah saat berkunjung ke Yogyakarta pada 10 Oktober 1989, mengatakan bahwa hari itu ia berada di jantung Pulau Jawa. Secara khusus, ia mengenang mereka yang telah meletakkan dasar bagi umat-Nya, yaitu Romo Van Lith SJ dan dua muridnya, Mgr Soegijopranata serta IJ Kasimo.
 
Tanpa Romo Van Lith, Bapa Suci belum tentu bisa mengucapkan kata-kata seperti itu. Bahkan mungkin ia tidak bisa berkhotbah di tengah puluhan ribu umat di Yogyakarta. Romo Van Lith, selama ini memang disebut-sebut sebagai peletak dasar misi Katolik di Jawa. Tonggak sejarah Gereja Katolik di Jawa itu mengacu pada baptisan 171 orang oleh Romo Van Lith di Desa Semagung, Kalibawang, Kulonprogo, DI Yogyakarta, di sebuah sendang (mata air) di bawah pohon angsana.
 
Misionaris dari Belanda yang mendarat di Semarang 1896 itu ditempatkan di Muntilan setahun kemudian. Ia tinggal di Desa Semampir, di pinggir Kali Lamat. Rekannya, RP Hoovenaar SJ ditugaskan di Mendut, Magelang, Jawa Tengah.
 
Di antara kedua imam Jesuit itu, ada perbedaan pandangan dalam hal bermisi. Menurut Romo Hoovenaar, keberhasilan misinya adalah dengan penambahan baptisan. Sementara Romo Van Lith yang idealis berpandangan bahwa Kabar Gem bira tak mungkin dilakukan dalam ketertindasan dan situasi yang tidak bermartabat. Melalui pendidikan, ia ingin menyejahterakan orang Jawa. Bagi Romo Van Lith menghidupi kekatolikan itu lebih pen ting daripada sekadar memeluk agama Katolik.
 
Apalagi Romo Van Lith juga menemukan pengalaman pahit. Misi di Jawa pernah mempunyai 30 orang baptisan oleh pendahulunya, Romo Van Hout. Empat orang di antaranya menjadi katekis untuk Muntilan, Magelang, Bedono, dan Ambarawa. Apa yang terjadi? Di antara katekis itu ada yang menilap uang pembelian tanah dan penebusan tanah rakyat dari lintah darat. Dua orang bahkan beristri dua. Selain korupsi yang dilakukan “orang terdekatnya”, iman mereka dangkal sekali. Bahkan terkesan mereka hanya mengincar uang dari karya misionaris itu.
 
Maka, 1903 Romo Van Lith membuka sekolah guru dengan asrama di Muntilan, mulai dari Normalschool, sekolah guru berbahasa Belanda, pada 1990 atau Kweekschool pada 1904, dan kemudian pendidikan guru-guru kepala pada 1906. Sepuluh tahun kemudian, 1915, ia baru mendirikan sekolah guru putri berasrama di Mendut.
 
Namun, laiknya karya misionaris, baptisan menjadi salah satu tolok ukur. Sampai akhirnya, karena tak menghasilkan baptisan, Romo Van Lith dianggap gagal. Misi pendidikan di Muntilan akan ditutup dan Romo Van Lith akan ditarik.
 
Tanpa diduga, suatu sore Sarikromo dari Kalibawang datang kepada Romo Van Lith di Muntilan. Dalam film Kasih Sang Ibu di Perbukitan Menoreh (SAV Puskat, 2004), Sarikromo dilukiskan menderita luka parah di kaki sehingga tak bisa berjalan. Anaknya bertutur dalam film itu, ia sempat “mengasingkan diri” di luar rumah karena bau lukanya tak sedap. Juga digambarkan, Sarikromo berjalan ke Muntilan dengan ngesot, berjalan dengan tangan dan pantat, untuk mencari obat. Sesampai di Muntilan, ia bersua dengan Romo Van Lith. Lukanya dirawat dan bisa sembuh.
 
Sarikromo tertarik mendengarkan ajaran agama Katolik. Setiba di rumahnya di Kajoran -kini desa di Paroki Promasan- banyak orang berdatangan. Mereka menanyakan ikhwal “mukjizat” penyembuhan kakinya. Sarikromo pun menceritakan apa yang diajarkan Romo Van Lith tentang kekatolikan. Sampai suatu ketika, pada hari Pentakosta, 20 Mei 1904, ia dan tiga orang lainnya – termasuk mertuanya Suratirta dibaptis Romo Van Lith di Muntilan. Keempatnya kemudian keluar masuk kampung di pegunungan Menoreh untuk mewartakan Kabar Gembira. Barnabas Sarikromo pernah bernadar, jika kakinya sembuh ia akan berkeliling ke mana-mana demi “yang menyembuhkan”.
 
Puncaknya, 14 Desember 1904, Romo Van Lith membaptis 171 orang setempat di Sendangsono. Peristiwa itu dipandang sebagai “kelahiran” Gereja Katolik di antara orang Jawa. Baptisan itu juga menjadi berkat bagi karya Romo Van Lith. Ia diijinkan meneruskan sekolah yang didirikan di Muntilan. Dari sekolah itu lahirlah ratusan guru dan tokoh masyarakat yang beragama Katolik maupun tidak, yang kemudian menyebar ke seluruh Indonesia. Di antaranya adalah Mgr Albertus Soegijapranata, IJ Kasimo, serta perintis kamus bahasa Indonesia WJS Poerwadarminta.
 
Berkat jasa dan kegigihan Barnabas Sari kromo mendampingi karya misi Romo Van Lith, Paus Pius XI menganugerahkan penghargaan Pro Ecclesia et Pontifice atas jasanya mengembangkan misi Katolik di Sendangsono dan sekitarnya. Bintang penghargaan itu diserahkan bertepatan dengan ulang tahun ke-25 baptisan Sendangsono, 8 Desember 1929. Ketika itu, RP JB. Prennthaler SJ juga meresmikan Sendangsono sebagai tempat peziarahan.
Sumber http://m.hidupkatolik.com/index.php/2014/10/03/awal-gereja-katolik-jawa
Sumber https://www.youtube.com/watch?v=qTKD2Lf9fEs

NASKAH DRAMA: BARNABAS SARI KROMO

Drama FAJAR DI BUKIT MENOREHdiangkat dari kisah Barnabas Sarikromo seorang tokoh awam dan pengikut ajaran agama Katolik perdana di pulau Jawa terutama di wilayah perbukitan Menoreh dengan sebuah tempat ziarah yang sangat terkenal yakni Gua Maria Sendangsono, Jawa Tengah. Di tangan Sarikromo dan kawan kawan yakni saudara Lukas Soeratirta, saudara Yokanan Soerawijaya dan Saudara Markus Soekadarma 171 orang dinyatakan layak dan dibaptis oleh Romo Van Lith di sebuah mata air yang bernama Sendang Semagung atau saat ini lebih dikenal dengan nama Sendang Sono.Karya mereka tidak hanya diakui oleh warga sekitar, namun salah seorang diantara mereka yakni Barnabas Sarikromo mendapat penghargaan tertinggi dari Pemimpin Gereja Katolik Roma berupa Bintang Jasa ‘Pro Ecclesia et Pontofice’.

Ide Cerita                      : Drs. Aloysius Sabon Payon, M.Ed

Penulis Naskah           : 1. Pelda Alexander Sukoco Broto

  1. Sertu Serinus
  2. Bpk Anang SS

Sutradara                     : Bpk Anang SS

Penanggungjawab      : Drs Aloysius Sabon Payon, M.Ed

“FAJAR DI BUKIT MENOREH”

MASA KECIL

Instrumen 01. Gendhing Ibu Pertiwi

LAMPU PADAM

Pagi itu hari tampak sunyi, di sebuah lereng bukit Menoreh.Dusun yang bernama Jamblangan Kelurahan Banjaroya Kecamatan Kalibawang Kabupaten Kulon Progo Bumi pertiwi yang dikuasai penjajah.Rakyat hidup dalam suasana keterbelakangan.

Adegan 1    (panggung kosong dengan suasana redup)

Narator       Lahir seorang anak dari sebuah keluarga sederhana, bernama Sariman.Tidak banyak kemudahan hidup ditawarkan padanya.Tapi justru satu perjuangan hidup yang harus dilaluinya.Seorang anak desa yang harus siap berjuang mempertahankan hidup.

Adegan 2    (Seorang ibu menggendong bayi berjalan tertatih tatih terbebani karena sambil membawa seonggok kayu. Setelah meletakan kayu di depan runah, ia pun masuk.

Narator       Hidup dalam daerah pegunungan tanah kering, tanah yang hanya bisa ditanami tanaman palawija.Untuk hidup mereka harus mencari nafkah di tengah tanah yang tandus.

————————–instrumen 02. Rerepen———————–

Narator       Tempaan awal dilalui oleh si bocah yang bernama Sariman… tetapi bagaimanapun ia tetap tumbuh menjadi bocah dusun yang hidup di antara tanah kering.

Adegan 3    (Seorang anak tanpa baju hanya bercelana kolor lusuh membawa seonggok rumput, Mukanya menggambarkan rasa lelah yang ditanggungnya).

 

Narator       Sariman memasuki masa kanak-kanak. Tetapi ia tak semujur teman-teman seusianya. Masa anak anak adalah masa bermain tetapi hal itu tidak dirasakan Sariman.

Adegan 4    (bu Martalaksana  sedang bekerja di depan rumahnya bersama anaknya, Kemudian ia memandang Sariman anaknya penuh rasa kasihan)

Ibu              : le…. Maafkan ibu, (memandangi anak anaknya yang sedang bekerja) karena bapakmu tidak ada, kalian harus menanggung sendiri beban hidup ini.

Anak 1        : sebenere bapak itu kemana to mbok (sambil mengerjakan sesuatu)

Ibu              : Ah mboh…. Le.(sambil mengerjakan sesuatu) makanya besok kalo kalian sudah dewasa jangan seperti bapakmu.

Anak 2        : iya mbok….

Ibu              : ya dah tuh kayunya dibawa masuk… (Sariman, kamu bawa kayu masuk)

Narator       Sedangkan di tempat yang tidak jauh letaknya banyak anak anak dengan penuh keceriaan bermain, bercanda dan tertawa.

————–instrumen 03 Lagu dolanan Padhang Bulan————–

LAMPU MENYALA WARNA WARNI

Narator       Keceriaan dan kebebasan yang dirasakan bocah bocah, yang dirasakan anak anak tidak bisa dinikmati Sariman.Sariman harus rela menghabiskan masa kanak kanak untuk bekerja membantu orangtuanya.

Adegan 4    (sekelompok anak bermain bersama.Anak putri berlarian masuk bermain dakon dan bola bekel, sedangkan anak laki laki bermain lainnya. Sariman mondar mandir mengerjakan pekerjaan rumah mengangkat kayu, mengangkat rumput, menyapu dan menimba air)

(Sariman masih sibuk membantu orangtuanya.Beberapa kelompok anak sedang bermain di halaman yang luas dengan ceria.Sariman hanya bisa melihat ketika dia sedang melintas di dekatnya.

————-lagu dolanan 04 Cublak-cublak suweng————-

(beberapa anak perempuan bermain cubllak cublak suweng, ada yang bermain dakon, sekelompok anak laki laki bermain ala laki laki)

Anak 1        : E…. kanca – kanca ini dah malem yuk kita pulang.

Anak 2        ; iya ini sudah malem….

Anak 3        : ayooo

Anak 4        : ayo

(anak anak berlarian keluar….)

—————lagu dolanan 05 Balabak——————

LAMPU MEREDUP

—————–lagu dolanan 06 Laler Mengeng—————

Berpisah dengan ibunya

Narator       Jalan hidup memang penuh warna, bu Mertalaksana, ibu Sariman merasa berat hidup sendirian. Dia memutuskan untuk menikah lagi, dan ia harus meninggalkan desa itu mengikuti suaminya. Sariman harus berpisah dengan ibunya.

Adegan 6    (ibu Sariman keluar dari rumah menggandeng anaknya, membawa bawaan bersama suaminya. Di belakang menyusul kakak Semi dan suaminya)

Ibu              : Simbok pergi ya, kalian hati hati, jadilah anak yang nurut paklik, pak de ya…

Anak           : iya mbok (sambil menangis melepas kepergian ibunya)

Ibu              : yu…. kang…. Aku titip anak anak…. Terpaksa aku harus meninggalkan desa ini

Pakdhe        : ya…

Narator       Mulai saat itu kelima bersaudara harus hidup tanpa orangtua, mereka dititipkan kepada beberapa kerabat di lereng bukit Menoreh ini.

————–ilustrasi 07 Ladang Ayun ayun————–

Narator       Hidup bersama orang lain tidaklah mudah. Hidup dengan orangtuanya saja sudah susah apallagi hidup tanpa orangtua

Adegan 7    (Sariman membawa bungkusan kain mendatangi sebuah keluarga menemui salah seorang)

Sariman      : Nuwun pakdhe…

Orang 1      : O… kamu Man…. Ada apa?

Sariman      : nuwun sewu pakdhe mbok saya diberi pekerjaan.

Orang 1      : Le… saya itu tidak punya duwit untuk ngopahi kamu…

Sariman      : Pak dhe tidak usah memberi upah yang penting makan saja.

Orang 1      : O kalo gitu ya boleh aja kamu bantu aku. Dah sana kamu tidur di kamar belakang ya

—————ilustrasi 8 Laras Moyo————-

Narator       Sariman bekerja tanpa upah, hanya sekedar untuk makan saja. Dan Sariman harus pindah dari keluarga yang satu ke keluarga yang lain hanya untuk memenuhi kebutuhan makan.

Adegan 8    (Sariman berjalan membawa bawaannya dari rumah yang satu ke rumah yang lain, kemudian dia beristirahat duduk di tepi jalan)

Sariman      : Ah capek sekali. Siapa lagi yang membutuhkan  tenaga saya… Apa masih ada orang yang membutuhkan tenaga saya lagi? Kalo tidak bagaimana ya?

Orang 2      : Man… mau kemana?

Sariman      : Ya biasa to kang, mau cari orang yang butuh tenaga saya.

Orang 2      : O kelihatannya pak dhe Mitro…. baru banyak kerjaan karena ladangnya mau ditanami kimpul. Coba aja kesana.

Sariman      : bener kang?

(wajah penuh kegirangan)

Orang 2      : ya pastinya aku juga gak ngerti, ya coba aja kesana… yuk tak anter.

Sariman      : O, ya kang matur suwun

(kedua orang itu pergi)

Narator       Sariman mengembara dari satu dusun ke dusun lainnya di kawasan Kalibawang. Dia ikut orang lain tanpa gaji, hanya sekedar numpang tidur dan numpang makan. Dari satu rumah ke rumah lain, dari satu desa ke desa lain Sariman bertumbuh dan mengembara hingga memasuki masa akil balik.Dia akhirnya menetap di Kajoran di kawasan Boro, Kalibawang.

BERKELUARGA

Narator       Di Kajoran inilah Sariman yang menurut ukuran orang di kampong itu sudah menjadi perjaka tua.Dia bertemu dengan Semi gadis setempat yang memikat hatinya.Semi adalah putri Soratirta, kepala dusun Kajoran.

———-ilustrasi music 09 Ldr Asmara Dana———–

Adegan       (Sariman sedang duduk berkipas topi setelah capek bekerja, Semi datang membawa makanan dengan bakulnya. Satu tangan menenteng cerek tempat minum)

Semi           Ni… kang, minumnya untuk ngobati haus

(Semi mendekati Sariman yang sedang beristirahat)

Sariman      O, ya makasih ya…

(pandangannya menoleh ke Semi sambil tersenyum)

Semi           Ah, koq pakai terimakasih segala

(Semi menuangkan minuman ke cangkir dan memberikannya kepada Sariman)

Sariman      Lo gimana to, kamu tu rela nganter makanan buat aku.Kan ada batur yang bisa disuruh.

Semi           Emangnya gak boleh po kang?

(nada agak genit)

Sariman      Ya boleh aja… Aku juga seneng koq. Tambah semangat…

(mereka berdua tampak ceria berkelakar dan bercanda)

Narator       Sariman dan Semi semakin akrab. Mereka menjadi sepasang kekasih

(obrolan mereka semakin akrab)

(mereka berdua pulang)

LAMPU TERANG

Narator       Melihat kedekatan mereka dan budi baik keluarga yang diikutinya, Sariman berhasil menikahi Semi pada tahun 1901. Sesuai tradisi Jawa maka dia memilih nama Soerjawrja sebagai nama dewasa.

————–ilustrasi music 10 Kodok Ngorek—————

————-ilustrasi music 11 Pangkur—————

Tarian         (Tarian Jawa)

(seusai tarian jawa semua tamu berpamitan dengan berjabatan tangan dengan kedua mempelai)

Narator       Suasana penuh rasa gembira terluap karena sepasang kekasih telah disatukan dalam ikatan pernikahan. Suasana gembira terpancar pada rona muka saudara, kerabat dan sahabat

———–ilustrasi music 12 Kebogiro————

LAMPU PADAM

PERGILAH KE ARAH TIMUR LAUT

Narator       Selang beberapa waktu setelah menikah, Sariman mengalami peristiwa yang sangat tragis.Kedua kakinya bengkak, berbisul dan bernanah. Berbagai cara pengobatan dan jejamuan entah dari pengalamannya sendiri maupun dari orang lain telah dia coba namun hasilnya nihil. Bahkan penyakitnya serasa bertambah parah.

——————hening music 13 Laler Mengeng—————-

LAMPU REDUP

(Sariman yang sakit kakinya masuk denganberjalan ngesot kemudian naik diatas para para)

Sariman      Dhuhhh Gusti…. Cobaan koq seperti ini. Aku tidak bisa apa apa. Aku malu…. Aku tidak memenuhi tanggungjawabku sebagai suami yang baik dan bertanggungjawab.Kemana aku harus mencari kesembuhan?

(ada orang masuk mendekati Sariman)

Orang 3      Kang… koq tidur disini…. Disini kan dingin….

Sariman      Iya ni dhi…. Aku malu tidur di dalam.Bau luka lukaku menyengat. Aku kasihan pada mereka

Orang 3      Gimana dengan Semi?

Sariman      Ya, dia juga menyuruh aku tidur di dalam, tapi aku kasihan pada mereka.

Orang 3      o gitu….

(sambil mengangguk angguk)

apa belum ada kemajuan, gimana kemarin khan sudah dibawa ke Mbah Romo…

Sariman      iya ini dhi… sudah 3 orang winasis yang lebih pinter aku datangi, tapi hasilnya koq ya kayaq gini. Tidak ada kemajuan.

Orang 3      Ya, nanti cari dukun yang sakti

Sariman      Ya, suwunke nang Pangeran semoga cepet dapat tamba

Orang 3      Ya kang… ya dah aku tak nengok sapi dulu ya…

Sariman      O ya manga matur nuwun… matur nuwun….

(orang itu pergi meninggalkan Sariman sendiri)

————-Lagu Tuhan Yesus sembuhkan kami…………

Sariman      Ahhh aku harus bagaimana.Aku tidak bisa tidur. Aku tak turun saja… Aku mau ke sendang.

(Sariman turun dari para para jalan ngesot mengambil pelita kecil. Pelita itu dinyalakan kemudian pelan pelan ia meninggalkan tempat itu)

—————lagu Kumbayah————-

Bertapa

Narator       Sariman meninggalkan ruangan. Dengan bersenjata pelita kecil ia menyusuri malam yang gelap. Dan tibalah dia di suatu tempat. Tempat itu tidak lain adalah sebuah sendang. Sendang Semagung, sendang yang dianggap angker oleh orang sekitar situ.

(Sariman berjalan ngesot dengan penerangan pelita yang kecil dan tiba di sebuah sendang)

LAMPU GELAP

Narator       Sariman mengambil posisi duduk bersila, duduk diam dalam keheningan

(Sariman duduk bersila dan meniup pelita itu)

Narator       Sariman pun bermeditasi dalam keheningan

(suasana hening, yang terdengar hanya suara angina berhembus menerpa daun daunan)

Narator       Tiba tiba………

LAMPU KILAT

(Cahaya kilat menerangi sesaat tempat itu disusul suara gemuruh. Setelah kebali sunyi terdengar suara halus)

Narator       “Pergilah ke timur utara, kamu akan mendapat dwitunggal.”

Narator       Suara itu terdengar jelas di telinga Sariman.Dan itu menjadi hal yang harus dipikirkan.

(Sariman kembali ke rumahnya)

Semi           Sudahlah jangan dipikir kata kata itu…

(Semi istri Sariman membawa minuman)

Semi           Mungkin kata kata itu hanya pendengaran bapak saja.Bapak hanya “rungon rungonen.”

Sariman      Tidak kok mi…, suara itu jelas. Aku yakin, itu wahyu yang harus dilaksanakan, maka suatu saat aku akan pergi melaksanakan bisikan itu.

Semi           Terus bagaimana, berjalan saja susah pak…., mbok ya udah. Nanti kita cari jampi jampi dari orang pinter lagi.

(Semi masuk membawa cangkir tempat minum dan Sariman kembali dalam keheningan)

Narator       Ternyata Sariman memikirkan bagaimana caranya untuk melaksanakan bisikan itu.Dia semakin yakin.

————–instrumen Hanya KepadaMu—————

Narator       Sariman bertekad bulat.Sekitar pukul 03.00 dini hari, ketika orang orang masih lelap tidur, Sariman keluar dari rumah mertuanya.Dengan mengesot dia susuri jalan tanah yang berbatu batu.Tidak ada alamat yang jelas dia tuju juga tidak ada denah kea rah mana dia harus berjalan.Yang dia ikuti hanya kata hati yaitu kea rah Timur utara.

(Sariman membawa bungkusan kain, mulai keluar meninggalkan ruangan)

Narator       Selama dalam perjalanan, Sariman bertemu dengan kerabat, tetangga dan orang lain yang pada umumnya menyarankan untuk mengurungkan niatnya karena kondisinya tidak memungkinkan serta perjalanan itu sendiri penuh resiko.

(Sariman berhenti untuk istirahat, tiba tiba ada tiga orang menyapanya)

Orang 4      Kang mau kemana??? Pagi pagi seperti ini sudah nyampe sini

Sariman      Aku mau cari jejampi ato orang yang bisa menyembuhkan kakiku

Orang 4      La… Mau kemana koq sendirian saja

Sariman      Saya juga tidak tahu

Orang 4      Wah, tambah aneh lagi.Pergi koq tidak ada tujuannya kemana?Mbok sudah, pulang saja.Ayo biar dibopong barengan.

Sariman      Ah tidak… saya tidak mau kembali sebelum kaki saya sembuh

Orang         Saling berbicara kecil kecil menggerutu karena Sariman tidak mau diajak kembali.

Narator       Itu terjadi beberapa kali. Niat Sariman sudah bulat dia akan terus meneruskan perjalanannya meski denagn cara ngesot.

PERJUMPAAN

Narator       Perjalanan berat bak wisata rohani, akhirnya dia sampai di sebuah desa yang bernama Muntilan sekitar pukul tiga sore hari.Muntilan adalah sebuah desa yang lebih ramai dikunjungi dibandingkan kampung Sariman sendiri. Disana terdapat kantor kecamatan, pasar dan sekolah yang berjarak sekitar 20 kilometer dari desa asalnya, Ke Muntilan ia tempuh selama 12 jam. Dia pun sampai di pasar.

(situasi pasar di pedesaan waktu itu)

(Sariman di tengah kesibukan pasar)

Narator       Sesampai di pasar Muntilan getar hati Sariman belum juga tenang, kendati sorot mata sinispun semakin banyak.Perjalanan dia lanjutkan kembali.Dia susuri jalan besar Muntilan ke arah timur, kemudian sampailah dia pada sebuah komplek bangunan Belanda dan diapun disapa seseorang.

———ilustrasi music Keyboard Pembasuhan kaki———

Rm Vanlith Selamat sore….. siapa kamu…. Koq kamu ada disini.

Sariman      Selamat sore ndoro tuan, saya Sariman

Rm Vanlith lo…. Kenapa itu kamu punya kaki, koq kayaknya sakit parah.Apa kamu pernah ditabrak kreta?

Sariman      Ini bukan karena ditabrak kreta ndoro. Saya wong gunung. Kaki saya ini sakit tidak sembuh sembuh.Saya mau mencari jamu ato dukun yang bisa menyembuhkan kaki saya.

Rm Vanlith Ooooo disini tidak ada dukun.Tapi kalo kamu mau sembuh disana ada tempat berobat.Apa kamu mau Sariman?

Sariman      Nggih ndoro tuan, asal kaki ini sembuh

Rm Vanlith Baiklah Sariman, kamu sekarang ikut aku… Ayo pegangan….

(Romo Van Lith membopong Sariman ke dalam)

Narator       Sariman dibawa masuk oleh seorang Belanda. Sariman ditidurkan dalam sebuah ruangan

Rm Vanlith Sariman kamu tidur disini. Nanti kamu punya kaki biar diobati

Sariman      Nggih ndoro tuan

Rm Vanlith Ini bruder Kersten yang akan merawat kamu. Sembuh ya… Tuhan memberkati.

(Bruder Kersten mulai merawat kaki Sariman. Luka luka dibersihkan)

Narator       Tuhan telah mengabulkan setiap doa yang disampaikan oleh seorang Sariman. Dan Sarimanpun sembuh dari penyakitnya.Kini kaki Sariman telah pulih.Dia bisa berjalan seperti sedia kala.

————-ilustrasi music 14 Lan udan Mas————-

Narator       Suatu pagi Sariman berjalan jalan di sekitar komplek bangunan

(Terdengar suara lagu Gregorian “Gloria.”Sariman tertegun dan merasa tertarik. Iapun duduk termenung)

 

————–ilustrasi music Keyboard Ave ave—————-

Rm Vanlith Sariman… Apa yang kamu lakukan disini

Sariman      Anu ndoro, tadi saya mendengar suara dari dalam loji itu. Itu suara apa ndoro? Ndoro juga kan baru dari loji itu

Rm Vanlith O itu suara orang sedang misa.Saya tadi baru pimpin itu misa.

Sariman      Misa itu apa ndoro.

(nada mulai naik karena rasa ingin tahu)

Rm Vanlith Misa itu ibadat cara kami, kalo kamu punya dinamakan sembahyang

Sariman      O… ndoro ki kiai to…. Kiai londo

Rm Vanlith Apa kamu bilang…. Hehehehe….kalo kami punya istilah pastor.

Sariman      Ah… yang mudah ya kiai londo, gitu ndoro

Rm Vanlith Ya dah terserah kamu saja

Sariman      Ndoro, kami boleh belajar, ngibadah cara sampeyan?

Rm Vanlith O boleh saja….

Narator       Sariman tertarik akan apa yang telah diterangkan sebagian oleh room Van Lith. Mereka semakin sering bersama duduk bersama untuk menjelaskan tentang ajaran ajaran Kathulik.

Rm Vanlith Sariman, hokum yang terutama dalam ajaran gereja adalah “Kasih.” Kalau kita mempunyai itu yang namanya kasih, kita akan merasa bahagia. Kasih telah diajarkan oleh Yesus.Dia telah membuktikan kasihNya yang paling Agung.Dia rela sengsara dan wafat di kayu salib.Dia disalib Sariman.Dia sengsara itu karena kesalahan kita.Kesalahan manusia.

(Sariman manggut manggut memperhatikan kata kata Rm. Van Lith)

Narator       Sariman memperhatikan setiap kata yang diucapkan oleh room Van Lith. Selain itu Sariman pun diajari baca tulis.

Rm Vanlith Sariman, coba ini dibaca yang keras

Sariman      Baik ndoro… Perumpamaan anak yang hilang

(Sariman membaca bacaan dengan terbata bata)

Rm Vanlith Bagus…. Membacanya sudah mulai lancar.Sekarang tulislah kutipan ini di kamu punya buku.

Sariman      Baik ndoro

(Sariman mengerjakan apa yang diperintahkan kemudian mengemasi barang)

Narator       Sariman belajar tentang ajaran Yesus sekaligus belajar baca tulis.Itu dilakukan secara terus menerus.Romo Van Lith dengan tekun membimbingnya.Sariman kini telah berubah, bukan lagi Sariman yang dulu melainkan Sariman baru.Bukan hanya kakinya yang semakin pulih tetapi hatinya juga.Imannya juga berkembang dengan baik.

(Sariman masuk dalam komplek pasturan bersama room Van Lith)

Narator       Pada suatu saat Sariman sudah merasa dirinya sehat, maka ia berpamitan hendak kembali ke desanya.

Sariman      Pastur… kepareng badhe matur

Rm Vanlith Ada apa Sariman. Kamu mau bicara apa

Sariman      Sekarang saya sudah sembuh dari sakit dan rupanya semua dari Gusti Yesus yang mencintai kami.Saya berterimakasih kepada pastur dan bruder.

Rm Vanlith Jangan berterimakasih pada saya tapi berterimakasih pada Tuhan

Sariman      injih pastur… maka itu kami akan bersyukur pada Tuhan. Karena Tuhan telah menyembuhkan kakiku dan menyelamatkan saya. Saya berjanji akan menggunakan kaki dan hidup ini untuk melayani Tuhan.

Rm Vanlith Ya boleh boleh saja. Kamu punya ide bagus…, bagus….

Sariman      Sekarang ijinkan saya kembali ke desa saya

Rm Vanlith Baik Sariman… tapi sekarang “kamu bukan Sariman lagi.” Sekarang namamu aku ganti dengan “SARIKROMO”

Sariman      Sarikromo pastur…. Njih ndoro…. Sendiko… matur suwun

(wajah berseri seri, (Sarikromo tersenyum dan menjabat  tangan Rm. Van Lith dan Bruder Kersten setelah itu Sariman pergi)

—————ilustrasi music 15 Gendhing lagu————–

KABAR GEMBIRA NAGIMU

Narator       Saat pulang berjalan dengan kedua kakinya yang kembali kekar.Terlintas dalam benak Sarikromo nazar yang telah dia ucapkan dulu.Tekadnya dalam hati, inilah saatnya bagi dia untuk memenuhi janjinya itu.Dalam perjalanan pulang hatinya semakin mantab karena boleh membawa pulang buah tangan bagi keluarga dan tetangga tetangganya yakni berita gembira tentang kesembuhannya dan berita gembira tentang Yesus.

Orang 1      Lo… ini kang Sariman to?

Sariman      Iya…, dhi. Betul tapi karena aku dah sembuh maka tetengerku diganti oleh kiai londo menjadi Sarikromo

Orang 2      Siapa kiai londo itu?Koq ada kiai londo?

Sariman      Kiai londo ki ya yang nyembuhke penyakitku dan mengajari aku tentang buku ini lo

(sambil menunjukan buku)

Orang 3      Buku apa kuwi?

Sariman      Yah besuk tak ceritaake semua.Sekarang aku tak cepat pulang.

(Sariman bergegas berjalan pulang. Ketiga orang itu mengikutinya)

—————Music 16 Betapa Hatiku—————

Narator       Langkahnya terasa ringan rasanya ingin dia berlari agar cepat cepat menyampaikan kabar suka cita tentang dirinya, tentang pertemuannya dengan kiai londo juga tentang apa yang dia telah peroleh. Tidak terasa Sariman telah sampai di halaman rumah.

Sariman      Buk……..

Semi           Haaaaa……. Bapak…..le…..nduk…. Bapakmu pulang…

(dengan rasa sukacita. Matanya terheran heran melihat suaminya, seluruh tubuh suami ditatap. Hampir tidak percaya dengan keadaan yang ada dihadapannya)

Semi           Ini kang Sariman to

(sambil berjongkok memegangi kaki Sariman)

Semi           Bener ini bapakmu to le…. Pak ini mantumu to

Para kerabat dan tetangga berdatangan… suara gaduh karena tidak percaya apa yang terjadi pada Sariman)

Sariman      iya aku Sariman yang dulu kakiku tidak bisa untuk jalan.Aku harus ngesot, tetapi karena aku ketemu dengan kiai londo, aku menjadi sembuh. Dan aku juga punya banyak cerita…

Orang 1      Cerita apa to kang

Sariman      Ya dah sini duduk semua aku tak cerita

(Sariman duduk, yang hadir disitu mengelilinginya)

Sariman      Ketika aku sakit aku pergi dari desa ini dan aku sampai di Muntilan. Disana aku ketemu dengan kiai londo dan Brudher Kersten

Semi           Kiai londo ki sapa to pak?

Sariman      Kiai londo itu Pastur.Dia itu kayaq kiai nanging agamane Kathulik.Kiai londo kuwi ngrawat aku sambil mengajarkan piwulang piwulang yang baik.Piwulang tentang piwulange Gusti Yesus. Gusti Yesus itu piandele orang Kathulik

Orang 2      Wah apa lagi…

Sariman      Gusti Yesus itu mulang piwulang tentang kasih.Kasih itu jadi hokum paling utama. Sebab siapa saja yang tidak mempunyai kasih tidak akan hidup dengan baik. Akhirnya tidak akan merasakan urip ing Kraton Kasuargan. Semua ajaran baik itu ada di buku ini.Nanti kita belajar bersama.Gimana para sedherek?

(orang yang hadir disitu mengangguk angguk)

Orang 3      Wah cocok aku…. Apik kuwi ya….

Orang 4      Trus sapa yang mau membacakannya?

Sariman      Nggih kulo to kang

Orang 4      We… bisa baca juga… ya wis mathuk

(sambil manggut manggut)

Narator       Cerita yang disampaikan oleh Sarikromo menimbulkan detak kekaguman dihati penduduk dusun Kajoran dan sekitarnya, serta menyisakan dibenak mereka berbagai pertanyaan.Pertanyaan itu mengendap dalam hati beberapa dari antara mereka dan berubah menjadi hasrat kuat untuk mengikuti jejak Sarikromo.

(Adegan tiga orang mendapat ajaran dari Sarikromo)

————music 17 Nderek Dewi Maria———

Sariman      Baiklah teman teman, kita lanjutkan belajar kita

Soeratirta    Ya mari saja….

Sariman      Buku ini disebut Injil ato Alkitab atau dalam bahasa kita disebut Pustaka Suci

Soerawijaya         Lalu… isinya cerita apa

Sariman      Buku ini menceritakan tentang sosok Yesus, Dia diutus oleh Sang Hyang Romo untuk menebarkan kabar kebungahan. Ya Yesus kuwi yang akan menebus kesalahan kita. Yesus itu sampai rela disiksa, dan wafat di kayu salib.Yang menggembirakan, Yesus bangkit dari mati.Coba, siapa yang bangkit dari mati selain Dia?

Dan yang paling penting, yaitu ajaranNya tentang Kasih. Kalau kalian mempunyai kasih, hidup kalian akan menjadi baik. Dan itu menjadi bekal kita untuk masuk ke Kerajaan Allah.

Soekadarma         Wah…. Apik kuwi…

Sariman      Ya kalo semua orang di dunia ini mempunyai kasih, bumi ini akan damai. Tidak ada yang namanya angkara murka, keserakahan, iri, dengki, tamak.

Narator       Hanya dalam hitungan hari ada tiga orang diantara mereka yaitu: Soeratirta, Soekadarma dan Soerawijaya mengatakan niatnya dengan pasti untuk mengikuti jejak Sarikrama.

Soerawijaya         Mbok aku diantar ke kiai londo itu.Aku koq kepingin ketemu dia.

Soeratirta    Aku juga kepingin ketemu dia

Sariman      Ya dah kita bisa ketemu dia

Narator       Mereka meminta Sarikromo untuk dipertemukan dengan Pastur Van Lith, di Muntilan guna mengikuti pelajaran agama.Setelah bersiap siap mereka berempat berangkat ke Pastoran Muntilan. Kepada Pastor Van Lith yang sama sekali tidak menduga kedatangan mereka

(keempat orang berjalan menemui Romo Van Lith)

Rm Vanlith E… kamu Sarikromo… sini ada apa, ada yang bisa aku bantu

Sariman      Iya ni ndoro kiai londo, kami bereempat menghadap kiai londo. Mengantar teman teman untuk ketemu dengan kiai londo. Mereka ingin mengerti apa apa yang ndoro ceritakan kepada saya.

Rm Vanlith Apa begitu saudaraku

Soeratirta    Iya ndoro

(sambil mengganggukan kepala, dan diikuti kedua temannya)

Soekadarma         Iya ndoro

Soerawijaya         Iya ndoro

Narator       Merekapun mulai belajar tentang iman Kathulik.Setelah diterima sebagai katekumen (penerima ajaran Kristiani) seminggu sekali dengan setia mereka pergi ke Muntilan untuk mengikuti pelajaran agama yang diberikan oleh Pastor Van Lith. Jarak Kajoran – Muntilan sejauh sekitar 20 kilometer dan mereka tempuh selama 3-4 jam dengan berjalan kaki.Untuk memantapkan motivasi mereka, beberapa kali Pastor Van Lith mengunjungi mereka di desa Kajoran yang berada di perbukitan Menoreh itu.

—————music 18 Raja Agung————-

Sariman      Selamat sore ndoro, selamat datang di desa kami

Rm Vanlith Ya terimakasih Sarikromo dan saudaraku semua

Soekadarma         Ya beginilah keadaan desa kami

Rm Vanlith Bener kalian ingin belajar agama Katholik?

Semua         Betul….

Soeratirta    ini malah ada tambah lagi, satu…. dua…. tiga…. empat…. Ada enam belas pastur.

(Soeratirta berdiri, sambil menghitung dengan telunjuknya)

Rm Vanlith Baiklah, baiklah…. Kita belajar bersama, mari kita belajar

Narator       Karena kesetiaan dan ketekunan mereka itu, lagipula masa pembelajaran Agama telah dianggap cukup, akhirnya mereka dinyatakan siap untuk dibaptis, bersama 16 orang dari desa desa sekitar Muntilan, pada bulan Mei 1904.

(Adegan perjumpaan/ pewartaan oleh keempat orang itu berjalan menelusuri bukit dengan membawa buku menemui beberapa orang)

Narator       Hari hari berikutnya, terlebih bagi Barnabas Sarikrama, adalah hari hari yang sibuk tiada tara. Setiap hari dia gunakan untuk menyampaikan kabar gembira, mewartakan Kristus.

Sariman      Para saudaraku, untuk menjadi orang Kathulik memang tidak mudah.Karena kita harus menjadi orang orang yang bisa menyangkal diri.Kita harus bermati raga semeh dan sumarah ing ngarso Gusti. Hati tinarbuka nampa sabdaning Gusti, hidup kita bukanlah milik kita tetapi milik Tuhan.

Orang 1      Ya koq bisa

Sariman      Ini semua agar Tuhan berkarya di dalam setiap hidup kita, dan kita menjadi alatnya.Dalam kejawen ada kata kata “yen kowe kabeh kepingin urip bagia kowe kudu golek galihe kangkung.Galih kangkung kuwi bolong. Sapa sing atine bolong ya Yesus lah karena hatinya tertusuk tombak.

Orang 2      Ya ya

(sambil manggut manggut)

 

Narator       Kaki Sariman seturut dengan nazarnya, serasa tidak pernah berhenti berjalan naik turun bukit menjelajahi dusun dusun di bukit Menoreh.Nyaris tidak satu dusunpun yang tidak pernah terinjak oleh kakinya.Di dusun ini entah pagi, siang atau malam Barnabas Sarikromo mengajar dan mengumpulkan penduduk untuk berdoa, sedemikian giat dia mewartakan karya keselamatan Tuhan.

(adegan pewartaan oleh Sariman)

Orang 1      Kenapa to kang, sekarang koq kakang giat banget dengan ajaran kiai londo itu?Bukankah kakang sudah memiliki ilmu kanuragan yang sangat bermanfaat bagi setiap orang yang datang ke kakang?

Sariman      Begini dhi… dalam Kitab Suci ini ada tertulis pada Yohanes 14 ayat 6 mengatakan: “Akulah jalan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Ini lho dhi, kita hidup di dunia kan hanya sebentar. Kalo orang ngomong “mung mampir ngombe.” Nah setelah kita hidup di dunia kita akan masuk hidup yang lebih lama hidup di alam kelanggengan atau alam keabadian. Nah pada bacaan tadi kita, jika kita pingin masuk kerajaan surge kita harus mengikuti ajaranNya.

Orang 1      O begitu to kang

Sariman      ya begitulah dhi, makanya aku semangat mewartakan hal ini.

Orang 1      O begitu to kang, kalo begitu aku juga mau ikut kakang

Sariman      Ya silahkan. Kamu juga silahkan baca Kitab Suci ini untuk diwartakan

Orang 1      Ya dah selamat jalan saja kang, sering sering saja mampir di rumah

Narator       Barnabas Sarikromo mengajarkan isi firman Tuhan

Sariman      Saudaraku, dalam Injil Matius 11 ayat 28 mengatakan: “Marilah datang kepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kamu kelegaan kepadamu.”

Sariman      Saudara saudara, kadang kita merasa sebagai orang berdosa kita semakin menjauh dari Tuhan.Kadang kita merasa tidak pantas untuk datang kepadaNya.Sesungguhnya kita justru harus semakin mendekatkan diri kepada Tuhan seturut firmanNya.

Orang 1      Iya betul, berdoa itu sebagai sarana berkomunikasi dengan Tuhan

Sariman      Betul sekali dhi.

Narator       Selain mengajar agama dan mengumpulkan orang untuk berdoa bersama, Barnabas Sarikromo masih disibukan dengan tugas mengantar para katekumen pergi ke gereja di Muntilan. Seminggu sekali tugas itu dia lakukan bersama ketiga sahabatnya, yaitu Lukas Soeratirta, Yokanan Soerawijaya dan Markus Soekadana

————————lagu Holly Night————————–

Narator       Dan sebagai hasil dari perjuangan mereka, banyak orang mengikuti ajaran Yesus. Di tangan Sarikromo dan kawan kawan, ada 171 orang dinyatakan pantas untuk menerima pembaptisan di sebuah mata air yang terletak di dusun Semagung yang oleh penduduk setempat dinamakan Sendang Semagung atau yang saat ini lebih dikenal dengan nama SENDANGSONO.

LAMPU TERANG

——–lagu Alam Raya dan We wish you Merry Christmas——–

Narator       Perjuangan empat putera terbaik dari perbukitan Menoreh yakni saudara Lukas Soeratirta, saudara Yokanan Soerawijaya, Saudara Markus Soekadarma dan saudara Barnabas Sarikromo sungguh sungguh mendapat pengakuan terutama umat yang mendiami perbukitan Menoreh dan sekitarnya. Penghargaan tertinggi juga diberikan oleh Vatikan kepada salah seorang diantara mereka yakni Barnabas Sarikromo yang tentunya merupakan bentuk penghargaan tertinggi dari Gereja Katolik Roma kepada yang bersangkutan, penghargaan kepada ketiga rekannya yang lain dan secara umum merupakan bentuk penghargaan pemimpin tertinggi Gereja Katolik kepada seluruh umat di perbukitan Menoreh dan sekitarnya.

Demikianlah persembahan drama natal dari kami

Kami mengucapkan

SELAMAT NATAL 2011 DAN TAHUN BARU 2012

SEMOGA TUHAN MEMBERKATI PERJALANAN HIDUP KITA

DITAHUNTAHUN YANG AKAN DATANG

SAMPAI JUMPA DI NATAL TAHUN 2012

TUHAN MEMBERKATI

SELESAI

Sumber http://barnabassarikromo.blogspot.co.id/2016_11_01_archive.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *