Petrus Joannes Willekens

Ia dikenal sebagai gembala umat yang sangat memperhatikan pendidikan imam diosesan dan pemeliharaan panggilan rohani umat pribumi. Ia, seorang Belanda totok dari Reusel, telah meletakkan hati, pikiran, dan pilihannya kepada umat pribumi. Ia adalah salah satu misionaris yang berdiri bersama umat pribumi dan mengusahakan Gereja yang hidup di tengah umat pribumi. Jejaknya dapat kita telusuri dalam berbagai karya.

Willekens MudaPetrus Joannes Willekens lahir pada tanggal 6 Desember 1881 di Reusel, Brabant Utara sebagai putra Tuan Adrianus Willekens dan Nyonya Willekens-Borrenbergen. Sejak kanak-kanak, Petrus Joannes Willekens sudah ingin menjadi imam. Pendidikan imamatnya dimulai  dengan studi bahasa Latin di Kolese S. Yosef, Turnhout, Belgia. Setelah setahun belajar di Seminari Kecil St. Michiels-Gestel, s’Hertogenbosch, pada tanggal 26 September 1900, ia masuk novisiat Yesuit di Mariendaal, dekat Grave, Brabant Utara. Tahun 1904, ia  berangkat untuk belajar filsafat di Oudenbosch. Namun, kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk belajar sehingga dia terpaksa menghentikan pendidikan filsafatnya. Sambil memulihkan kesehatannya, ia menjadi surveillant di Kolese Kanisius, Nijmegen selama empat tahun. Setelah kesehatannya pulih, ia meneruskan pendidikan teologinya selama empat tahun. Tanggal 24 Agustus 1915, di Maastricht, Monsinyur Schrijnen menahbiskannya sebagai imam dalam Ordo Serikat Jesus.

Setahun setelah tahbisan, Pater Willekens sedianya diutus ke Universitas Beirut, Siria (sekarang Lebanon) untuk menggantikan para imam Perancis yang tidak jadi mengajar disana karena situasi perang. Namun, sampai di Berlin, Jerman, ia tidak mendapatkan visa masuk ke Siria sehingga harus kembali ke Belanda. Ia pun menjalani masa tersiat di Exaeten. Setelah masa tersiat, ia mengemban berbagai tugas, antara lain: Rektor dan Pemimpin Novis di Mariendaal, dekat Grave, Brabant Utara (1917), Pemimpin Novis (1918), Rektor Teologan Yesuit pada Collegium Maximum Canisianum di Masstricht (1925), Konsultor Provinsial Yesuit di Belanda (1926-1930), Visitator Regularis Yesuit untuk misi Jawa (1928), Visitator di berbagai tanah misi (India: 1928-2931, Hungaria: 1931-1932, dan Inggris: 1932-1934).

Keberangkatan WillekensPerutusan Willekens sebagai Vikaris Apostolik Batavia dimulai tanggal 23 Juli 1934. Paus Pius XI memilih Willekens[1] untuk menggantikan tugas Monsinyur van Velsen, SJ. yang pada April 1933 mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Pemilihan ini tampaknya didasarkan pada pengalaman kerja Willekens untuk daerah misi. Berita pengangkatan Pater Willekens sebagai Vikaris Apostolik Batavia disampaikan oleh Delegatus Apostolik untuk Australia dan Asia kepada Provicaris Batavia, Pater A. Van Hoof, SJ. pada tanggal 9 Agustus 1934. Saat itu, Pater Willekens mendengar bahwa di Jawa akan diadakan konferensi para Vikaris di Hindia Belanda pada tanggal 19 September 1934 yang akan membicarakan berbagai hal penting menyangkut berbagai kegiatan Gereja katolik di Hindia Belanda dan hanya diadakan setiap lima tahun. Ia merasa bahwa pertemuan ini sangat penting baginya karena dia dapat menimba banyak pengalaman dari rekan-rekan vikaris yang telah lebih dahulu berkarya di Hindia Belanda. Alasan inilah yang mendorongnya untuk segera berangkat ke Batavia. Waktu dan tempat keberangkatan pun ditetapkan, yaitu pada tanggal 24 Agustus 1934 dari pelabuhan Genoa.

Tanggal 22 Agustus 1934, ia berangkat dari Den Haag menuju Mariendaal. Di Mariendaal, ia  bertemu rekan sesama misionaris ke Hindia Belanda, yaitu Pater P. Teppema, SJ. dan 5 frater novis Yesuit yang akan berangkat bersama-sama dengannya. Tanggal 24 Agustus 1934, Pater Willekens bersama para misionaris yang lain berangkat dengan kapal Christiaan Huygens menuju pelabuhan Tandjong Priok, Batavia. Tiga minggu kemudian, tanggal 13 September 1934, kapal Christiaan Huygens memasuki pelabuhan Tandjong Priok di Batavia. Saat itu, Pater A. Van Hoof, SJ., Provikaris Batavia; Pater Wubbe, pastor kepala di Batavia menyambut Pater Willekens. Tampak juga para pejabat Gereja, pejabat pemerintah maupun tokoh umat, antara lain: Mgr. Goumans, Prefek Apostolik Bandung; Pater Dr. van Asseldonk, Proprefek Bandung; Pater Dr. A. van Kalken, Superior Misi Yesuit di Jawa; Pater Baptist, Kepala Biro Sentral Misi di Batavia; Pater Beekman, Superior Misi Fransiskan; Prof. van Kan, anggota Raad van Indie; Tuan Monod de Froideville dan Kasima Endrawahjana, pejabat Gereja Katolik dan perwakilan-perwakilan lain dari organisasi Katolik[2]. Setelah disambut secara singkat di Tandjong Priok, Pater Willekens dan rombongan dibawa ke Katedral Batavia yang berada di Waterloo-plein. Tanggal 3 Oktober 1934, Pater Willekens menerima tahbisan uskup dari tangan Monsinyur Bertz Inze, Vikaris Apostolik Manado di Gereja Katedral Batavia dengan gelar Uskup Tituler dari Zorava. Motto tahbisan Uskup yang dipilih dalam jabatannya adalah “Scio Sui Credidi”. Kata-kata ini diambil dari kata-kata Rasul Paulus kepada Timoteus, “… karena aku tahu kepada siapa aku percaya…” (2 Tim 1: 12). Melalui tahbisan ini, Monsinyur Willekens bertanggungjawab atas reksa pastoral di wilayah yang sekarang meliputi Keuskupan Agung Jakarta dan Keuskupan Agung Semarang.

Kedatangan Willekens 1 Kedatangan Willekens 01 Kedatangan Willekens 03 Kedatangan Willekens 2 Kedatangan Willekens 02 Kedatangan Willekens

Pelayanan Monsinyur Willekens membuat jumlah umat Katolik bertambah. Selain jumlah umat, panggilan untuk menjadi pelayan rohani – imam, bruder, suster – pun semakin subur. Bukti kesuburan panggilan rohani itu ditunjukkan melalui pendirian lembaga pendidikan pelayan rohani pribumi yang antara lain digagas oleh Monsinyur Willekens. KOMPAS mencatat jasanya itu sebagai berikut, “Usaha jang paling menjolok didjalankan oleh almarhum [Monsinyur Willekens – pen] selama mendjabat Vikaris Apostolik jalah pendidikan imam dan pemeliharaan panggilan rohani.”[3] Usaha Monsinyur Willekens untuk mewujudkan pemeliharaan panggilan rohani dilakukan lewat tiga langkah besar, yaitu Pendirian lembaga pendidikan imam diosesan Seminari Tinggi Santo Paulus; Pendirian lembaga hidup bakti biarawati pribumi Tarekat Abdi Dalem Sang Kristus; dan  Pengesahan lembaga hidup bakti biarawan pribumi Konggregasi Bruder Apostolik (Bruder Rasul)[4]. Selain itu, dia juga mulai membuka asrama seminari di Jalan Lapangan Banteng pada tahun 1950. Tahun 1952, seminari tersebut dipindah ke Tangerang[5].

Monsinyur Willekens juga mengusahakan berkembangnya iman umat dengan mengusahakan gereja-gereja[6]. Semua itu dilakukan agar umat dapat mempunyai fasilitas yang memadai untuk memperdalam relasi dengan Allah yang memanggil mereka seperti yang dituliskannya, “Setelah perjalanan kunjungan pertama ke seluruh vikariat, saya mendapat keyakinan akan perlunya gereja-gereja di daerah misi dan saya mengulangi harapan saya dengan rumusan sebagai berikut: ‘Dalam perjalanan keliling di seluruh vikariat  saya,  saya  melihat  pembangunan gereja-gereja sungguh diperlukan di desa-desa Jawa. Betapa saya ingin membangun gereja sederhana di desa yang amat membutuhkan dan dengan demikian, saya membantu orang-orang Katolik Jawa yang baru saja bertobat.’”[7]

Monsinyur Willekens tidak saja memikirkan perlunya para pemimpin rohani dan fasilitas untuk mengolah kerohanian, tetapi juga mendorong para awam Katolik untuk terlibat dalam kehidupan politik. Ia juga memperhatikan kesejahteraan umat dengan mendirikan sekolah dan rumah sakit. Bidang pers juga tidak luput dari perhatiannya. Baginya, pers adalah sarana pewartaan iman kepada banyak orang seperti tercetus dalam kata-katanya sendiri, “Kalau saja harus mempergunakan uang untuk membangun geredja atau menerbitkan sebuah surat kabar, maka saja akan memilih menerbitkan surat kabar.”[8] Niatnya ini ditindaklanjuti dengan diterbitkannya dwimingguan “Penabur” untuk masalah kemasyarakatan pada tahun 1946 dan mingguan “De Katholieke Week” (yang sekarang dikenal dengan Majalah HIDUP) untuk masalah kekatolikan pada tahun 1947[9]. Dalam kurun waktu enam tahun pelayanannya, perkembangan umat di Vikariat Batavia melaju dengan amat pesat. Dari 51.908 orang pada tahun 1934 menjadi 64. 399 orang pada tahun 1940. Kemajuan ini mendesakkan pemekaran wilayah Vikariat Apostolik Batavia sehingga  pada tanggal 5 Agustus 1940, daerah Semarang dijadikan Vikariat tersendiri.

Willekens dan SoegijaAtas inisiatif Monsinyur Willekens, diangkatlah seorang imam pribumi sebagai pimpinan penggembalaan di Vikariat Apostolik Semarang. Albertus Soegija-pranata, SJ., bekas murid Monsinyur Willekens saat menjabat magister novisiat di Belanda, diajukan untuk mengemban jabatan itu. Langkah berani ini dicatat oleh Romo Mangunwijaya, “Dan Willekens-lah yang dalam bayangan-bayangan gelap situasi Pasifik dengan mata tajam mengusahakan agar Indonesia memper-oleh seorang uskup pribumi demi kedewasaan Gereja di Indonesia, dan juga demi kesiagaan menghadapi situasi yang dirasakan akan gawat. Di tahun-tahun terakhir 1930-an tidak ada seorangpun mengira bahwa tidak lama kemudian Perang Dunia kedua dan perang Pasifik akan berkobar, dengan akibat-akibat luar biasa yang menggoncangkan seluruh struktur di kepulauan Nusantara ini dalam segala dimensi.”[10] Akhirnya, Soegijapranata ditahbiskan pada tanggal 6 November 1940[11]. Pasca pemekaran wilayah, Monsinyur Willekens secara intens terus menjalin komunikasi pribadi dengan Monsinyur Soegijapranata sebagai vikaris apostolik yang baru.

Awal tahun 1942, tentara Jepang berhasil menduduki wilayah Indonesia dengan sangat cepat. Pemerintah Belanda dipaksa menyerahkan kekuasaan mereka kepada Jepang pada bulan Maret 1942. Wilayah Indonesia pun jatuh ke tangan pemerintah Jepang. Situasi ini sangat mempengaruhi kelangsungan hidup Gereja Katolik di Indonesia. Kekuatan Jerman yang menduduki seluruh daratan Eropa termasuk Belanda menyulitkan hubungan antara tanah misi Indonesia dan negeri induk Belanda. Uang tidak dapat lagi dikirim dari negeri Belanda. Hubungan ini memutus upaya perolehan tambahan tenaga imam, bruder, dan suster[12]. Di Indonesia, Gereja Katolik menemui kenyataan yang tidak jauh berbeda dari yang terjadi di Eropa. Umat Katolik harus hidup dalam wilayah yang diperintah tentara Jepang.

Jepang sendiri mempunyai tujuan perang untuk menghilangkan pengaruh Eropa di Asia dan menjadikan kawasan Asia Selatan sebagai suatu persemakmuran yang dikuasai Jepang[13]. Faktor ekonomi dan melimpahnya hasil bumi melatarbelakangi usaha ini. Tujuan itu sangat berpengaruh dalam memperlakukan misionaris asing yang bekerja di Indonesia. Jepang mulai menghapuskan pengaruh asing dengan menangkap dan menginternir orang-orang asing. Di Sumatera, imam, bruder, dan suster Belanda segera ditawan dan dimasukkan kamp-kamp konsentrasi. Umat Katolik Cina dan Indonesia, khususnya di daerah Batak, dipaksa membina imannya sendiri. Calon imam pribumi yang pertama dari Padang ditahbiskan tahun 1943, tetapi tidak diizinkan tinggal di Sumatera. Untunglah, ada seorang imam pribumi yang selama perang itu dapat terus bekerja di Pulau Bangka[14]. Di Jawa, situasi umat Katolik lebih menguntungkan karena jumlah imam, bruder, suster pribumi jauh lebih banyak. Di samping itu, Monsinyur Soegijapranata dan keempatbelas rekan pribuminya dapat meneruskan kegiatan penggembalaan. Tahun 1943, semua imam berkebangsaan Eropa di Vikariat Batavia diinternir. Di Flores, terjadi penginterniran pada bulan Juli 1942 dan para tawanan dibawa ke Makasar. Setahun kemudian, pemerintah Jepang ingin menyingkirkan sama sekali misionaris asing yang masih tersisa di Flores. Namun, masih ada usaha memelihara kehidupan rohani umat Flores dari pihak Jepang untuk mendapatkan simpati umat Katolik setempat karena Flores adalah basis pertahanan Jepang  di daerah selatan. Usaha ini ditempuh dengan mendatangkan Monsinyur P. Yamaguchi, Uskup Nagasaki dan Monsinyur A. Ogihara, SJ., Vikaris Apostolik Hiroshima bersama beberapa imam. Berkat kedatangan para rohaniwan dari Jepang ini, keputusan untuk menyingkirkan para misionaris yang masih ada di Flores itu tidak pernah dilakukan[15].

Selama pendudukan Jepang, Monsinyur Willekens sebagai Vikaris Apostolik Jakarta dan Pater C. Doumen, SJ. yang menjadi sekretarisnya tidak ikut diinternir. Monsinyur Willekens menulis kepada pemerintah tentara Jepang bahwa dia tidak akan meninggalkan kedudukan dan tugas yang diserahkan Tahta Suci Vatikan kecuali dipaksa dengan kekerasan[16]. Ia juga mengambil langkah “unik” dengan mengangkat dirinya sebagai “wakil resmi” Tahta Suci Vatikan[17]. Berkat hubungan diplomatik antara Vatikan-Jepang serta “jabatan diplomatik” itu, ia berhasil mendapatkan status kebal untuk tetap dapat berkeliling di Jakarta dengan pakaian lengkap seorang uskup sambil mengenakan ban lengan bercap merah.

Monsinyur Willekens belajar mengenali perilaku bangsa Jepang melalui pendalamannya tentang situasi agama dan sifat-sifat bangsa Jepang. Berulangkali ia mendatangi kantor-kantor instansi Jepang untuk melakukan protes atau minta perhatian atas pelanggaran yang terjadi terhadap hak-hak personal dan milik Gereja seperti: pembunuhan Vikaris Apostolik Maluku beserta misionarisnya[18], perampokan gereja-gereja di Medan, pelarangan pemakaian pakaian biara bagi para suster, dan peniadaan subsidi untuk sekolah-sekolah dan panti asuhan[19]. Perjuangannya berhasil menyelamatkan karya pelayanan Rumah Sakit Sint Carolus, menggagalkan penggunaan Gereja Santa Theresia Menteng sebagai gudang perbekalan, serta menolong orang yang kesulitan ekonomi dan orang-orang tahanan[20]. Bersama Monsinyur Soegijapranata, Monsinyur Willekens berjuang terus untuk memelihara kehidupan iman umat. Bahkan, Monsinyur Willekens mengirimkan nota kepada Soegijapranata yang salah satu isinya mendesak untuk memberi prioritas dan mempertahankan pendidikan imam. Bersama dengan umat yang masih muda imannya, mereka berdua terus mempertahankan agar iman terus hidup[21]. Larangan pemerintah Jepang untuk berkotbah di gereja juga dilanggarnya dengan sangat berani[22]. Monsinyur Willekens menyadari bahwa umat pada saat pendudukan Jepang membutuhkan kehadiran seseorang yang dapat meneguhkan kehidupan beriman mereka. Atas keberanian dan jasanya, Ratu Belanda menganugerahkan gelar kehormatan Commandeur in de Orde van Oranje Nassau pada tahun 1946. Selain itu, ia juga menerima tanda kehormatan dari Sunan Paku Buwono X, Raja Surakarta[23].

Setelah Jepang meninggalkan Indonesia, Monsinyur Willekens mulai membenahi kekacauan dan kerusakan akibat perang. Para imam, biarawan, biarawati, dan umat menjadi korban pendudukan Jepang[24] sehingga kesehatan mereka sangat buruk. Monsinyur Willekens sendiri juga mengalami kemunduran fisik karena kerja keras dan situasi kekurangan selama masa pendudukan Jepang. Para dokter melarangnya bekerja keras dan memaksanya mengambil cuti kesehatan. Tanggal 26 Juni 1947, Monsinyur Willekens berangkat ke Belanda setelah 13 tahun tidak mengambil cuti untuk dirinya sendiri. Setelah sekitar satu tahun berada di Belanda, pada tanggal 10 Agustus 1948, meskipun fisiknya baru pulih separo, ia kembali ke Indonesia untuk memulihkan keadaan Gereja Vikariat Batavia. Tugas itu dilaksanakannya sampai pada tahun 1952.

Willekens UskupTahun 1952, Monsinyur Willekens merasa bahwa kondisi kesehatannya semakin menurun dan usianya semakin lanjut. Karena dua alasan itu, ia mengajukan permohonan kepada Tahta Suci Vatikan agar dibebaskan dari tugas jabatan vikaris apostolik. Vatikan pun mengabulkan permohonan itu. Tanggal 23 Mei 1952, dia meletakkan jabatan Vikaris Apostolik. Ia pun digantikan oleh Adrianus Djajasepoetra, SJ yang ditahbiskan sebagai Vikaris Apostolik Batavia pada tanggal 23 April 1953. Dengan demikian, selesailah tugas pelayanan Monsinyur Willekens sebagai pemimpin tertinggi wilayah gerejawi Vikariat Apostolik Batavia.

Memasuki masa pensiun, semangat Monsinyur Willekens tidak surut. Ia tidak beristirahat dari tugas pelayanan tetapi memilih tugas kesukaannya, yaitu mengasuh para calon imam. Ia pun ditugaskan mengasuh para calon imam Yesuit di Novisiat Girisonta, Ungaran antara tahun 1953-1963. Pada tahun 1963, dia berpindah ke Yogyakarta dan bertugas sebagai pembimbing rohani para calon imam yang belajar teologi di Kolese Santo Ignatius, Kotabaru, Yogyakarta[25]. Tugas itu dilaksanakannya secara tekun sampai terdengar kabar bahwa Monsinyur Willekens meninggal dunia pada hari Rabu, 27 Januari 1971, di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta dalam usia 89 tahun.

Berita wafatnya mulai disiarkan melalui telpon dan radio. Hari berikutnya, tanggal 28 Januari 1971, pers di Yogyakarta dan Jakarta mulai memuat berita duka tersebut. Tanggal 27 Januari 1971, setelah disucikan, jenazahnya disemayamkan sebentar di kapel Rumah Sakit Panti Rapih. Sore harinya, jenazah dibawa ke Kolese Santo Ignatius di Jalan I Dewa Nyoman Oka 3, Kotabaru yang menjadi tempat tinggalnya sebelum meninggal. Para pastor, frater, serta bruder Yesuit yang berdiam di kolese tersebut mengadakan tuguran. Bruder dan suster dari berbagai macam ordo dan konggregasi di Yogyakarta datang dan turut serta dalam acara tersebut.

Tanggal 28 Januari 1971, diadakanlah Misa Requiem yang dipimpin oleh Kardinal Justinus Darmojuwono didampingi Mosinyur Leo Soekoto, SJ.; Mgr. Adrianus Djajasepoetra, SJ., mantan Uskup Agung Jakarta, Pater H. Stolk, SJ., Rektor Kolese Santo Ignatius Yogyakarta; Pater T. Wignjasupadma, SJ., Rektor Seminari Tinggi St. Paulus, Jogjakarta; dan Pater F.X. Danuwinoto, dari Kawali Jakarta. Gereja penuh sesak tetapi upacara berlangsung lancar. Dalam kotbahnya, Monsinyur Leo memaparkan jasa-jasa dan karya almarhum di Indonesia. Setelah misa selesai, iringan mobil jenazah mulai bergerak menuju Muntilan. Sampai di Muntilan, peti jenazah langsung dibawa ke gedung gereja Santo Antonius untuk diberkati dengan upacara pemberkatan terakhir. Upacara ini dipimpin oleh Monsinyur Djajasepoetra, bekas anak didik sekaligus pengganti almarhum sebagai Vikaris Apostolik. Banyak sekali umat yang datang tetapi yang dapat masuk gereja hanya sedikit sekali sehingga banyak pelayat yang langsung menuju ke makam.

Setelah upacara pemberkatan, jenasah dibawa ke makam. Iringan tersebut diawali oleh anak-anak sekolah yang membawa banyak karangan bunga dan anak-anak yang menabur bunga sepanjang jalan dari gereja menuju makam. Para pastor, frater, dan bruder Yesuit berjalan di samping dan di belakang mobil jenazah. Akhirnya, dalam cuaca yang cerah, jenazah Monsinyur Willekens dikebumikan di antara tokoh-tokoh pelopor misi di Jawa Tengah, seperti Pater van Lith, SJ. dan Pater Mertens, SJ. Inilah sekilas kisah pemrakarsa berdirinya Gereja Purwosari.

Pemakaman Willekens 04 Pemakaman Willekens 03 Pemakaman Willekens 02 Pemakaman Willekens 01

Sumber http://www.santopetruspurwosarisolo.com/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *