Johannes Baptist Prennthaler

Suatu hari seorang pastor menapaki jalanan terjal menuju Sendangsono, Kalibawang, Kulonprogo, DI Yogyakarta sembari mendaraskan brevir. Tiba-tiba terdengar teriakan dari salah satu rumah yang ia lalui. Ia bergegas ke rumah itu dan mendapati seorang perempuan sedang mengusir orang gila yang menyelonong ke rumahnya.
 
Lalu sang pastor membantu si perempuan mengusir orang gila itu. Ia pun menenangkan si perempuan sebelum melanjutkan perjalanan. Pastor ini ialah RP Johannes Baptist Prennthaler SJ, misionaris di perbukitan Menoreh; dan perempuan itu ialah Soekarti, ibu dari Uskup Agung Semarang, Mgr Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta.
 
Menghidupi Iman
Seperti dikisahkan Mgr Puja, orangtuanya Soekarti dan Soekarto memang dekat dengan Romo Prennthaler. Kala Soekarti dan Soekarto masih pacaran, Romo Prennthaler ikut mendorong keberanian dua sejoli itu untuk memeluk hidup berkeluarga. Akhirnya mereka menikah pada 26 Desember 1943. Pada hari bahagia itu, Romo Prennthaler menghadiahkan patung Tyas Dalem dan patung Bunda Maria agar menjadi panutan bahtera keluarga mereka.
 
Tak hanya keluarga Soekarti dan Soekarto, Romo Prennthaler mengajak semua umat untuk sungguh menghidupi imannya, yang disuburkan dengan devosi pada Bunda Maria. “Ini saya kira poin yang baik. Menempatkan Maria dalam suatu dinamika kehidupan iman. Maka, juga diletakkan dalam suatu alinea Ardas KAS: Dengan meneladan Maria, hamba Allah dan Bunda Gereja untuk memperjuangkan cita-cita keuskupan,” ujar Mgr Puja.
 
Tiap hari, Romo Prennthaler berjalan kaki menyusuri perbukitan Menoreh.
Ia bertandang dari rumah ke rumah. Misionaris berkebangsaan Jerman ini memang dikenal dekat dengan umatnya di Menoreh. Salah satu karyanya yang selalu dikenang ialah mendatangkan lonceng-lonceng dari Eropa ke Paroki Boro. Lonceng gereja itu sengaja didatangkan untuk mengingatkan umat berdoa ‘Malaikat Tuhan’, tiga kali sehari pada pukul 06.00, 12.00, dan 18.00.
 
“Saya kira Romo Prennthaler berhasil membangun keluarga-keluarga menjadi sungguh Katolik, melalui kebiasaan-kebiasan Katolik, seperti doa dan Rosario ber sama; sehingga benih panggilan itu tumbuh dalam hati anak-anak keluarga di Boro. Saya mengalami cara hidup seperti itu,” kisah Mgr Puja.
 
Kerasulan di Ladang Misi
Misionaris kelahiran Tirol, Austria, 18 April 1885 itu bergabung dengan Ordo Serikat Yesus Provinsi Perancis di Lyon pada 20 September 1904. Awalnya, Prennthaler diprospek untuk bermisi ke Siria.
 
Suatu hari ia membaca artikel tentang misi di Jawa. Sejak itu, panggilan menjadi misionaris di Jawa memikat hatinya. Tekadnya bermisi di Jawa mendorongnya untuk meminta izin Jenderal Jesuit kala itu, RP Wlodomir Ledochowsky SJ. Gayung bersambut. Prennthaler diizinkan bergabung dengan Provinsi Belanda yang menangani misi Jawa.
 
Pada 25 September 1920, ia berangkat ke Jawa usai singgah sebentar di Novisiat SJ Mariendaal, Belanda. Prennthaler memulai karyanya di Mendut, daerah sekitar Kalibawang, dan Samigaluh. Awalnya, ia merasa asing dengan budaya, orang-orang, makanan, serta alam di ladang misi baru.
 
Dalam proses adaptasi, ia mulai memetakan medan karyanya. Jelajah kerasulannya sekitar 11,5 kilometer dari Timur ke Barat, dan 10 kilometer dari Utara ke Selatan. Rute jalan sekitar 22,5 kilometer dari Mendut, hingga 32 kilometer hingga Kalibawang. Ia butuh 4,5 jam berjalan kaki melewati pasar-pasar besar di Muntilan dan Tempel.
 
Perbukitan Menoreh segera akrab baginya, karena medan seperti itu mirip dengan daerah jelajah asalnya di pegunungan Alpen. Mimpinya hanya satu, merasul demi kemuliaan Tuhan yang makin besar (Ad Maiorem Dei Gloriam) dan keselamatan jiwa-jiwa.
 
Terik mentari tak menyurutkan langkah Romo Prennthaler berjalan kaki mengunjungi umatnya. Jalanan terjal perbukitan Menoreh ia sapa dengan doa-doanya. Orang mengatakan “Pedibus Apostolorum”, perjalanan para rasul. Di celah kerasulan, ia menjelajah hingga desa pelosok dan bercengkrama dengan warga setempat.
 
Dengan bara semangat menyala, Romo Prennthaler biasanya empat atau lima kali berkotbah tiap bulan. Tiga atau empat kotbah berbahasa Jawa dan satu berbahasa Belanda. Ia habiskan 16 jam per minggu untuk mengajar katekismus dan melayani 170 orang untuk pengakuan dosa. Tahun 1927, ia merayakan Misa bersama lima umat di Desa Jurang Banjarsari. Merekalah pioner misionaris awam di Menoreh.
 
Dalam karya misinya di bumi Menoreh, terselip keprihatinan dalam hatinya. Romo Prennthaler miris menyaksikan lahan misi gersang, areal sawahnya sempit, dan kemiskinan merajalela. Hatinya kian tergores kala disentri mewabah di Kalibawang dan Mendut. Penyakit ini merenggut banyak korban jiwa.
 
Romo Prennthaler tak berdiam diri. Pengalamannya menjadi perawat selama tiga tahun di Beirut, Lebanon menggerakkannya untuk menolong masyarakat Menoreh. Ia membeli obat-obatan untuk masyarakat. Ia melebur dalam suka-duka yang dialami masyarakat Menoreh, hingga berjuang melepaskan diri dari belenggu kemiskinan dan jerat rentenir. Ia gelisah dan bertanya apa yang mesti dilakukan untuk memutus mata rantai kemiskinan ini. Akhirnya ia merefleksikan, pewartaan yang benar mustahil tanpa ditopang dengan uang.
 
Baginya, perkembangan umat Katolik di Menoreh memerlukan lembaga sosial karitatif. Ia pun menjalin relasi dengan para donatur, berbisnis perangko, dan berkolaborasi dengan Tarekat Suster OSF dan Bruder FIC. Mereka berjibaku mem bangun rumah sakit, sekolah, dan latihan kewirausahaan seperti produksi sabun, tenun, dll.
 
Untuk mengembangkan iman umat, Romo Prennthaler rajin merayakan Ekaristi, pengakuan dosa, pelajaran katekumen, dan mentradisikan doa Angelus, serta devosi pada Bunda Maria. Ia menghadirkan banyak lonceng yang kemudian dikenal dengan istilah “Lonceng Prennthaler”.
 
Bersama umat, ia membangun Gua Maria “Lourdes” Sendangsono yang menjadi tempat pembaptisan pertama umat Kalibawang oleh Romo van Lith SJ. Romo Prennthaler pun memulai tradisi berziarah ke Gua Maria Sendangsono yang diresmikan pada 8 Desember 1929 oleh Vikaris Apostolik Batavia Mgr Anton Pieter Franz van Velsen SJ (1924-1933).
 
Pada April 1930, Romo Prennthaler berdomisili di Pastoran Boro bersama imam Jesuit pribumi pertama, RP F.X. Sa timan SJ. Mereka membangun Gereja St Theresia Lisieux Boro yang diberkati oleh Superior Misi RP Jos van Baal SJ pa da 31 Agustus 1931. Kala itu, wilayah Gereja Boro mencakup Kalibawang, Samigaluh, Plasa, dan Nanggulan.
 
Kehadirannya di Boro memikat banyak orang menjadi pengikut Kristus. Makin hari, jumlah umat kian banyak. Romo Prennthaler pun membentuk “Pamomong Umat” untuk membantu tugas imam dalam reksa penggembalaan umat yang tersebar, menginformasikan baptisan bayi dan pengurapan orang sakit, melayani penguburan secara Katolik, mengajar agama bagi calon baptis dan baptisan baru, serta memimpin ibadat harian atau mingguan di desanya.
 
Semua itu dilakukannya agar Kerajaan Allah tak sekadar diwartakan, tapi sungguh dirasakan umat dan masyarakat. Baginya, kontemplasi dalam aksi menjadi bentuk penghayatan iman rasuli Jesuit sejati. Romo Prennthaler wafat pada 28 April 1946 dan dimakamkan di Boro, 2 Mei 1946.
 
Mendulang Semangat
Untuk mengenang Romo Prennthaler, umat di Boro mengadakan novena serta perayaan Ekaristi tiap malam Jumat Kliwon. Ini dilakukan untuk mendulang semangat dan meneladan perjuangan hidupnya. Selain itu, tradisi pembacaan riwayat Romo Prennthaler selalu di helat tatkala HUT Paroki Boro.
 
Tahun 2001, dibentuk panitia renovasi makam Romo Prennthaler. Renovasi dilakukan pada 2002-2004. Peletakkan batu pertama dilakukan oleh Uskup Agung Semarang kala itu, Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo.
 
Meskipun telah wafat, perjuangan dan hidup iman Romo Prennthaler mendapat tempat istimewa di hati umat Boro dan sekitarnya. Sowi Mursidi, yang pernah menjadi misdinarnya berkisah, Romo Prennthaler tiap sore mengajar agama orang-orang Boro. “Aku pun salah satu muridnya. Dalam pelajaran, ada sapaan à la Romo Prennt yang tidak pernah kulupakan yaitu “kowe mitraku” (kamu sahabatku),” ujarnya seperti dikutip dari buku “Pedibus Apostolorum: Jejak Langkah Misioner J.B. Prennthaler SJ di Perbukitan Menoreh”. Sapaan itu berlaku dalam keseharian, yang membuktikan kedekatan dengan umatnya.
 
Romanus Suparlan (72), pensiunan Guru SMP Kanisius Nanggulan mengatakan, karya Romo Prennthaler mampu mendorong umat Boro meningkatkan kesejahteraan hidup dan memperkuat imannya. Sementara Wakil Ketua Dewan Paroki Boro, Siprianus Suparjo mengungkapkan, Romo Prennthaler juga mendorong umat untuk setia dalam hidup berkeluarga dan ikut andil demi terciptanya kerukunan antar umat tanpa membedakan agamanya.
 
Menurut Koko Gregorius, Anggota Tim Kerja Data, Bidang Litbang Paroki Boro, umat Boro menempatkan Romo Prennthaler sebagai orang suci yang menjadi perantara untuk menyampaikan doa pada Tuhan. Usai makam Romo Prennthaler dipugar, kian banyak umat berdoa di sana, baik umat Boro maupun dari Klepu dan Nanggulan.
 
RP Johannes Baptist Prennthaler SJ
TTL : Tirol, Austria, 18 April 1885
Masuk SJ : Lyon, Perancis, 20 September 1904
Tahun Orientasi Kerasulan : Beirut, Lebanon, 1914
Tahbisan Imam : 27 Juni 1917
Bermisi ke Pulau Jawa : 25 September 1920 (sebagai Jesuit Provinsi Belanda)
Kaul Akhir : 15 Agustus 1922
Sabatikal : Wina, Austria, 1935
Wafat : Boro, Kulon Progo, DIY, 28 April 1946
Dimakamkan : Boro, Kulon Progo, DIY, 2 Mei 1946
Karya:
* Belajar Bahasa Indonesia dan Jawa di Muntilan, Jawa Tengah (1921)
* Pastor di Gereja Bunda Maria Sapta Duka Mendut (kini termasuk salah satu Stasi dari Paroki St Yusuf Pekerja Mertoyudan), Magelang, Jawa Tengah, 1922-1930
* Pastor di Gereja St Theresia Lisieux Boro, Jawa Tengah, 1930-1936
* Berpastoral, mengajar, dan menjadi Pembimbing Rohani siswa Sekolah Pertanian/Perkebunan, tinggal di Bruderan Budi Mulia (BM), Rawaseneng, Temanggung, Jawa Tengah, 1936-1942
* Pastor di Gereja St Theresia Lisieux Boro, Jawa Tengah, 1943-1946
 
Maria Pertiwi
Laporan: H. Bambang S.
Sumber http://www.hidupkatolik.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *